Kunjungi Sanggar Ading Bastari Barikin HST, Warga Australia Terkesan Gamalan Banjar

“Perjalanan Jessica dan Sofia ke HST bukan sekadar wisata, melainkan upaya menemukan kembali akar budaya yang selama ini hanya hidup dari cerita keluarga”

Ketua Sanggar Ading Bastari HST, Lupi Anderiani mempraktekkan cara menabuh Gamalan Banjar disaksikan Jessica Rosia Lane dan Sofia Erica Ellina Lane (foto: TABIRkota/ferian sadikin)

BARABAI (TABIRkota) — Jessica Rosia Lane bersama anaknya, Sofia Erica Ellina Lane, warga Australia, terkesan dengan gamalan (gamelan) Banjar dan teknik memainkannya.

Kekaguman tersebut disampaikan Jessica Rosia Lane, setelah mengunjungi Sanggar Ading Bastari, di Desa Barikin, Kecamatan Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel) pada Kamis (16/7) lalu.

Menurutnya, seni budaya Banjar memiliki daya tarik yang kuat karena tidak hanya menampilkan keindahan bunyi, tetapi juga menyimpan nilai sejarah dan identitas masyarakat.

“Selama di HST, kecintaan saya terhadap budaya Banjar makin tumbuh dan saya ingin kembali ke sini suatu hari nanti,” ujarnya.

Jessica Rosia Lane dan Sofia Erica Ellina Lane merupakan keturunan Banjar dari daerah Kalua, Kabupaten Tabalong, yang saat ini bermukim di Perth, Australia.

Jessica mengatakan, ia ingin membawa keluarganya berkunjung ke Barikin agar melihat langsung budaya Banjar yang hanya didengar melalui cerita.

“Saya ingin keluarga merasakan langsung berada di kampung seni, bertemu pelaku seni budaya Banjar dan merasakan sendiri kehangatan masyarakat HST,” katanya.

Sementara itu, Ketua Sanggar Ading Bastari HST, Lupi Anderiani mengatakan, kedatangan diaspora Banjar dari Australia bukan hanya sarana mengenal seni dan budaya Banjar, tetapi juga menjadi momen saling mengenal asal-usul keluarga.

“Kami saling bertukar cerita tentang silsilah keluarga, dari situ saling mengenal datu nini atau nenek buyut masing-masing dan menyadari bahwa kami memiliki ikatan yang sama sebagai urang Banjar,” katanya.

Pada masa Perang Banjar, “datu nini” atau nenek buyut Jessica Rosia Lane “madam” atau merantau ke Tembilahan, Riau dan bermukim di sana.

Saat Perang Dunia II meletus dan pasukan Jepang memasuki Sumatera, nenek serta keluarga Jessica Rosia Lane melarikan diri ke Singapura.

Jessica Rosia Lane besar di Singapura, namun tradisi serta cerita tentang Banua Banjar masih melekat di dirinya melalui cerita nenek dan ibunya.

Jessica menikah dengan Peter Lane yang merupakan warga Australia serta menetap di negeri Kanguru tersebut, hingga memiliki dua anak, Sofia Erica Ellina Lane dan Samantha Suriyani Lane.

Perjalanan Jessica dan Sofia ke HST bukan sekadar wisata, melainkan upaya menemukan kembali akar budaya yang selama ini hanya hidup dari cerita keluarga. (fer/ra)

Pewarta: M Ferian Sadikin

Journalist | Editor | - Hulu Sungai Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Terima KKN UNISKA Banjarmasin, Wabup Kapuas Harap Mahasiswa Hadirkan Program yang Berdampak Nyata

Kam Jul 23 , 2026
"Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata melalui berbagai program yang bermanfaat"

You May Like

TABIRklip