“Bagung jadi Raja”

“Ungkapan “tampulu Bagung jadi Raja” acapkali dikonotasikan sebagai sindiran bagi mereka yang temaha pada jabatan dan kekuasaan, meski banyak dari mereka hakikatnya tidak atau belum memiliki pengalaman dan kemampuan”

(ilustrasi/net)

Penulis: Kayla Untara

ULUN (saya) yakin, pian (sebutan untuk orang yang lebih tua/orang yang dihormati, red) familiar pada ungkapan lama yang jadi kambang pandiran (tema pembicaraan) kita hari ini. Dalam bahasa percakapannya, biasa diawali dengan kata “tampulu” (mumpung). Tampulu Bagung (Bagong, tokoh pewayangan, red) jadi raja…

Ungkapan tersebut bisa dikonotasikan positif, namun pada kebiasaannya lebih digunakan untuk sindiran. Tentu saja hal ini beralasan dan mengacu pada kisah legenda si Bagung dalam riwayat punakawan dunia pewayangan.

Singkat kisahnya, Bagung ketika mengembara dalam keadaan sedih hati bertemu dengan Dewi Drupadi, istri dari Yudhistira, di sebuah negeri bernama Negeri Pancala.

Dalam percakapan tersebut, rupanya Dewi tersentuh hati dan menaruh simpatinya pada kesedihan dan nasib yang dialami Bagung. Dengan kebaikannya, Dewi Drupadi meminjamkan dua pusaka milik keluarga, yaitu Jamus Kalimasada dan kalung Maniking Warih dengan harapan Bagung bisa memperoleh keinginan dan kebahagian yang ia impikan.

BACA JUGA :  Mengenang Didi Gunawan; "The Truly" Wartawan

Dengan kedua pusaka itu, Bagung mampu merebut tahta Prabu Drupada dan menjadi raja di negeri Pancala.

Ketika Bagung menjadi raja di negeri Pancala, keadaan negeri kian hari kian kacau. Kekacauan itu sampai ke telinga Prabu Kresna dari negeri Astina dan Sang Samar (Semar), orangtua dari Bagung.

Terjadilah pertempuran hingga akhirnya Bagung bisa ditaklukan meski sebelumnya Prabu Kresna kalah tanding namun dengan dibantu oleh Semar dan Punakawan, Bagung bisa dikalahkan dan insyaf atas kekeliruannya yang lupa jati diri ketika mendapatkan tahta sebagai seorang raja.

Bisa saja, karikatur yang sama tersaji dalam kenyataan yang sedang kita jalani.

Misal, ketika seorang tukang meubel ujuk-ujuk jadi raja karena memperoleh pusaka dari seorang Ratu Dewi Drupadi akan tetapi ia melupakan jasa sang Dewi dan malah berkhianat ingin mempertahankan kekuasaannya dengan berbagai cara, namun tak sadar diri sehingga negeri Pancala mengalami kekacauan selama kepemimpinannya. Tetapi tetap ngotot ingin berkuasa lebih lama.

BACA JUGA :  Penjilat dan Jabatan

Sadar ia tak bisa lagi, maka didorongnya sang anak untuk menggantikan agar ia masih bisa menikmati kekuasaan dan semua tetap dalam kendalinya.

Bisa saja, toh?

Atau, misal mendorong anak-anaknya, menantunya, iparnya, adiknya, istri atau suaminya, bahkan sampai “anak buahnya” untuk memperoleh kursi kekuasaan karena ia sendiri sudah tak mampu namun masih berambisi untuk memiliki kekuasaan melalui tangan anak-anaknya, menantunya, adiknya, iparnya, istri atau suaminya bahkan melalui tangan “anak buahnya.”

Jika tidak bisa berkuasa penuh, maka pilihannya adalah membentuk negeri baru. Harapannya, jika kelak terbentuk suatu negeri baru, maka ia dan kroni serta koleganya yang akan pertama berada di puncak kekuasaan.

Demi mencapai keinginan itulah, diatur strategi sedemikian rupa agar pembentukan negeri baru memiliki dukungan secara politik dan melalui regulasi aturan formil. Tentu seluruh instrumen akan diberdayakan demi tercapainya tujuan, meski melalui cara-cara memalukan dan menjijikan.

Dalam benak mereka bisa jadi macam; “Biarlah jadi raja kecil, sekecil-kecilnya pun tetaplah seorang Raja. Sedang jadi jelata, mau sebesar apapun tetaplah jadi rakyat jelata namanya!”

BACA JUGA :  Fenomena Gunawan, Rumah Singgah, Kehadiran Negara dan Keluarga

Itulah mengapa ungkapan tampulu Bagung jadi Raja acapkali dikonotasikan sebagai sindiran bagi mereka yang temaha pada jabatan dan kekuasaan, meski banyak dari mereka hakikatnya tidak atau belum memiliki pengalaman dan kemampuan.

Semua serba tiba-tiba. Tiba-tiba jadi ketua sebuah organisasi. Tiba-tiba jadi pengurus suatu asosiasi. Tiba-tiba memiliki panggung pertunjukan di sana-sini.

Memang, semua itu tak ada melanggar hukum kerajaan, tetapi bukankah etika masih berada di atas yang namanya pasal dan materi perundang-undangan?

Jika fenomena Bagung jadi Raja ini memanglah ada, kita hanya berharap akan muncul sosok Prabu Kresna dengan senjata Cakranya serta para Punakawan yang kelak akan mahumbalangkan (menumbangkan) ego dan ambisi Bagung yang kadung jadi Raja.

Penulis: Kayla Untara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Atraksi Kuntau

Jum Mar 1 , 2024
TABIRkota Uploader: Zidna Rahmana Post Views: 63 BACA JUGA :  Klientelisme dan Hadiah Izin Tambang Ormas Keagamaan

You May Like

TABIRklip