
DI BAWAH rimbunnya kebun karet di Desa Bundar, Kecamatan Dusun Utara, Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah (Kalteng), guguran daun cokelat biasanya pasrah menemui ajalnya: ditumpuk, dibakar, lalu hilang menjadi asap yang menyesakkan udara.
Namun, di tangan 12 siswa Kelas X SMA Negeri 3 Dusun Utara, daun-daun kering itu menolak mati sia-sia.
Melalui sebuah proyek briket biomassa yang jenius, limbah yang tadinya tak berharga, kini bertransformasi menjadi bara hijau yang menghidupkan harapan baru bagi energi alternatif desa.
Di bawah bimbingan guru Kimia SMA Negeri 3 Dusun Utara yang visioner, Eka Puspitasari, pelajaran sains yang biasanya penuh rumus rumit, kini berubah menjadi aksi nyata yang seru dan aplikatif.
Tidak sendirian, para siswa juga berkolaborasi dengan para pekebun karet lokal yang bertindak sebagai mitra belajar di lapangan, serta perwakilan guru dan tenaga kependidikan SMA Negeri 3 Dusun Utara.
* * *

Menjemput Sains di Altar Alam
PROYEK tersebut mengusung prinsip pembelajaran yang bermakna, berkesadaran dan menggembirakan. Inovasi pembuatan briket dari daun karet kering, sangat relevan bagi siswa kelas X SMA Negeri 3 Dusun Utara karena potensi daun karet kering yang melimpah di wilayah tersebut, namun tak pernah dimanfaatkan secara ekonomis.
Melalui prinsip pembelajaran yang bermakna, berkesadaran dan menggembirakan, para siswa tidak hanya duduk di dalam kelas menatap papan tulis. Mereka diajak bergerak, mulai dari memahami teori kimia, mengumpulkan bahan baku, hingga melakukan pencetakan dan pemadatan mekanis briket biomassa di lapangan dan merefleksikan hasil karya secara kritis.
Uniknya, kecanggihan teknologi tetap hadir di tengah aksi alam tersebut. Para siswa memanfaatkan Kelas Digital Huma Betang, sebuah platform integrasi teknologi, untuk mengolah data kelompok mereka secara interaktif.
Proses itu berhasil mengikis kebiasaan lama masyarakat yang sering melakukan pembakaran terbuka. Melalui pembelajaran tersebut, siswa diajari dan diajak menyadari bahwa limbah daun kering tidak selamanya harus berakhir sia-sia dengan dibakar begitu saja.
Selain dapat diolah menjadi pupuk kompos yang menyuburkan tanaman, siswa kini dibekali keterampilan baru, bahwa sampah daun kering juga bisa disulap menjadi briket biomassa bernilai guna tinggi.
Proses pengolahan bahan alam tersebut, melatih nalar kreatif siswa untuk melahirkan inovasi bahan bakar alternatif mandiri yang hemat biaya bagi kebutuhan rumah tangga.
Langkah kecil dari Dusun Utara itu, mendapat apresiasi tinggi dari internal sekolah. Perwakilan guru SMA Negeri 3 Dusun Utara mengakui, proyek tersebut berhasil menghidupkan suasana belajar kimia menjadi menyenangkan dan aplikatif bagi siswa.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 3 Dusun Utara, Juli Suseno, tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya atas terobosan para anak didiknya.
“Pihak sekolah sangat mendukung penuh proyek kreatif tersebut, sebagai bukti nyata bahwa keterbatasan sarana bukan hambatan untuk melahirkan karya inovatif yang memanfaatkan potensi lokal lingkungan sekitar sekolah,” katanya.
Pujian senada juga datang dari Pengawas Pembina, Johana Christina Ria Simanjuntak.
Menurutnya, apa yang dilakukan di sekolah tersebut merupakan sebuah praktik baik yang patut dicontoh oleh sekolah-sekolah lain.
“Proyek pembuatan briket dari daun karet ini secara nyata berhasil mengintegrasikan teknologi, yaitu Kelas Digital Huma Betang dengan aksi lingkungan luar kelas,” ujarnya.
Pembelajaran seperti itulah, yang sebenarnya dibutuhkan siswa untuk melatih kemandirian dan berpikir kreatif.
* * *

Menyalakan Asa di Masa Depan
BAGI siswa SMA Negeri 3 Dusun Utara, briket itu bukan sekadar tugas sekolah untuk mengejar nilai. Hal tersebut adalah langkah awal untuk membentuk dimensi kewargaan global yang nyata.
Siswa kini sadar, bahwa sampah daun kering tidak selamanya harus dibakar sia-sia. Jika tidak menjadi kompos yang menyuburkan bumi, ia bisa menjadi energi alternatif yang menyelamatkan lingkungan.
Melalui kolaborasi dengan pekebun karet lokal, asa besar kini digantungkan. Harapannya, inovasi hilirisasi energi ramah lingkungan tersebut tidak berhenti di halaman sekolah, tetapi menular ke rumah-rumah warga desa, menciptakan kemandirian energi yang berkelanjutan bagi masyarakat luas.
Kini, seiring dengan asap pembakaran sampah yang mulai berkurang di Desa Bundar, ada nyala api lain yang bersinar lebih terang. Itulah api kreativitas siswa SMA Negeri 3 Dusun Utara.
Melalui sebongkah briket, mereka membuktikan bahwa masa depan energi hijau tidak harus lahir dari laboratorium canggih di kota besar, melainkan bisa tumbuh subur dari kesadaran menjaga tanah kelahiran sendiri. (ra)




