
BARABAI (TABIRkota) — Komunitas Jurnalistik, Organisasi Kepemudaan (OKP) dan aktivis lingkungan di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel) menggelar Nonton Bareng (Nobar) dan diskusi film dokumenter “Pesta Babi” di tengah kisruh penolakan di berbagai daerah.
Pemutaran film tersebut ditonton oleh ratusan pemuda dan masyarakat HST, di Momen Kopi Barabai, Sabtu (16/5) malam.
Penyelenggara kegiatan, Muhammad Hidayatullah mengatakan, nobar dan diskusi adalah ruang belajar bersama untuk membahas isu sosial, lingkungan dan kemanusiaan yang diangkat dalam film dokumenter tersebut.
“Film dokumenter tersebut bukan sekadar tontonan, tetapi juga ruang refleksi, dialog dan kritis bagi kaum muda maupun masyarakat,” katanya.
Menurutnya, pemutaran tersebut terbuka untuk umum tanpa pungutan biaya dan disediakan kopi serta makanan ringan.
“Peserta yang datang bukan hanya menonton, tetapi juga ikut berdiskusi dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang,” ujarnya.
Film Pesta Babi mengangkat isu Papua dengan sudut pandang kritik sosial dan lingkungan yang bertajuk “Kolonialisme di zaman kita”.
Dokumenter investigatif karya Dhandy Laksono dan Cypri Paju Dale mengangkat kisah masyarakat Papua, terutama Suku Marind, Awyu, Yei dan Muyu yang menghadapi ancaman kehilangan tanah adat dan hutan mereka.
Masyarakat adat tersebut berhadapan dengan pembangunan skala besar, yakni perkebunan tebu skala industri, bioetanol, food estate, ekspansi investasi dan Proyek Strategis Nasional.
Salah satu pemantik diskusi yang merupakan keterwakilan perempuan, Alfidah menambahkan, persoalan di Papua bukan hanya tentang isu sosial dan lingkungan, tetapi juga tentang perempuan.
“Kami mengharapkan suara perempuan di Indonesia, khususnya di HST bisa didengar, meskipun tidak berada di garis depan konflik,” tambahnya.
Ketika hutan hilang, katanya, maka perempuan juga kehilangan ruang mengurus keluarga, mencari pangan dan menjaga tradisi.
“Suara perempuan sering dianggap kecil, padahal mereka paling dekat dengan kehidupan masyarakat,” katanya.
Pemutaran film di HST membuktikan bahwa masyarakat dan pemuda setempat tidak anti kritik serta terbuka dalam menerima informasi.
Film Pesta Babi di HST ditonton oleh 200 pemuda dengan berbagai latar belakang dan aktif mengikuti diskusi. (fer)



