Pemadaman Listrik di Barsel, Begini Penjelasan Kepala Unit PLN ULP Buntok

“Pemadaman listrik di Kalselteng bukan disebabkan pasokan batu bara seperti yang berkembang di masyarakat, melainkan akibat adanya kerusakan pada sebagian PLTGU di sistem PLN”

Kepala ULP PT PLN (Persero) Buntok, Vivin Aprianor memberikan penjelasan terkait pemadaman listrik yang terjadi di wilayah Kalselteng (foto: TABIRkota/akhmad madani)

BUNTOK (TABIRkota) – Kepala Unit Layanan Pelanggan (ULP) PT PLN (Persero) Buntok, Vivin Aprianor memberikan penjelasan terkait pemadaman listrik yang terjadi di wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan (Kalselteng), termasuk Kabupaten Barito Selatan (Barsel).

Menurutnya, pemadaman disebabkan penerapan manajemen beban akibat defisit daya pembangkit, karena adanya selisih antara daya mampu pasok pembangkit dengan total kebutuhan beban pelanggan.

“Manajemen beban harus dilakukan karena terjadi defisit daya pembangkit akibat adanya selisih antara daya mampu pasok dengan total beban pelanggan yang salah satunya disebabkan kondisi sebagian Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) di sistem PLN mengalami kerusakan,” ujarnya di Buntok, ibu kota Barsel, Kamis (2/7).

Pemadaman di Kalimantan diakui tidak berkaitan dengan gangguan kelistrikan yang sebelumnya terjadi di Sumatera maupun Jawa yang lebih kepada gangguan pada jaringan transmisi.

Ia mengatakan, PLN memiliki pembagian tugas yang berbeda mulai dari divisi pembangkitan, penyaluran hingga distribusi sehingga setiap gangguan ditangani sesuai kewenangannya.

“Divisi pembangkitan mengelola mesin pembangkit, penyaluran menangani jaringan transmisi, sedangkan distribusi bertanggung jawab mulai jaringan tegangan menengah hingga listrik tersalurkan ke kWh meter pelanggan,” katanya.

Pemadaman listrik terbagi menjadi pemadaman terencana, pemadaman darurat dan pemadaman akibat gangguan.

Pemadaman terencana biasanya sudah dijadwalkan sehingga masyarakat bisa diinformasikan lebih awal, sedangkan gangguan terjadi secara tiba-tiba sehingga harus dilakukan penelusuran penyebabnya terlebih dahulu.

Gangguan jaringan tidak hanya disebabkan pepohonan, tambahnya, tetapi juga dapat berasal dari kerusakan peralatan kelistrikan, tetapi juga bisa berasal dari trafo maupun peralatan lainnya yang harus diperbaiki terlebih dahulu.

Vivin Aprianor menambahkan, pelaksanaan manajemen beban dilakukan berdasarkan kondisi kebutuhan daya setiap hari dengan mempertimbangkan selisih antara daya mampu pasok dan prediksi beban pelanggan.

“Apabila daya mampu hanya 100 sementara kebutuhan mencapai 120 maka ada selisih 20 yang harus dikelola melalui manajemen beban dengan tetap memperhatikan historis pemadaman di masing-masing wilayah,” tambahnya.

Persoalan pemadaman listrik di Kalimantan bukan disebabkan pasokan batu bara seperti yang berkembang di masyarakat, melainkan akibat adanya kerusakan pada sebagian PLTGU di sistem PLN yang menyebabkan terjadinya defisit daya.

PLN terus berupaya melakukan pengaturan beban serta menyampaikan informasi kepada masyarakat agar dampak pemadaman dapat diminimalkan.

PLN mengimbau masyarakat untuk memahami bahwa pelaksanaan manajemen beban dilakukan sebagai langkah menjaga keandalan sistem kelistrikan hingga kondisi pembangkit kembali normal.

Untuk layanan pengaduan maupun informasi kelistrikan, masyarakat dapat menghubungi Call Center PLN 123 atau mengunduh aplikasi PLN Mobile melalui App Store untuk pengguna iPhone maupun Google Play Store untuk perangkat Android. (mad/ra)

Pewarta: Akhmad Madani

Journalist - Barito Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Komitmen Dukung Peningkatan Kesehatan Masyarakat, PT Indocement Tarjun Kotabaru Peroleh Penghargaan Nasional

Kam Jul 2 , 2026
"Penghargaan yang diperoleh menjadi bukti bahwa kolaborasi dunia usaha dan pemerintah mampu memberikan dampak positif dalam memperkuat program kesehatan nasional"

You May Like

TABIRklip