Tetapkan Status Siaga Karhutla, Wabup Balangan Tegaskan Optimalisasi Mitigasi Bencana

“Potensi karhutla di Balangan cukup meningkat, dari seluruh kejadian yang tercatat, terdapat 17 kejadian dengan luas wilayah terbakar mencapai 29,5 hektare yang tersebar di seluruh kecamatan”

Pemkab Balangan menetapkan status Siaga Darurat ancaman karhutla serta kekeringan, terhitung sejak 12 Agustus hingga 30 Oktober mendatang (foto: TABIRkota/mc blg)

PARINGIN (TABIRkota) – Wakil Bupati (Wabup) Balangan, Kalimantan Selatan (Kalsel), Akhmad Fauzi menegaskan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat akan terus mengoptimalkan upaya mitigasi bencana dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Hal tersebut disampaikan Akhmad Fauzi saat penetapan status siaga darurat ancaman karhutla serta kekeringan pada Rapat Koordinasi (Rakor) Lintas Sektor Siaga Bencana Karhutla di Aula Benteng Tundakan, Kantor Bupati Balangan, Paringin Selatan, Arba (12/8).

Menurutnya, migitas membutuhkan langkah konkrit dan koordinasi yang terencana, terpadu serta berkesinambungan.

“Mari kita semua meningkatkan kewaspadaan dan aktif dalam upaya penanggulangan bencana, termasuk pencegahan dan mitigasi,” ujarnya.

Pada rakor yang diinisiasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Balangan tersebut, Pemkab setempat menetapkan status Siaga Darurat ancaman karhutla serta kekeringan, terhitung sejak 12 Agustus hingga 30 Oktober mendatang.

Pada kesempatan itu, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Balangan, H Rahmi mengatakan, potensi karhutla di Balangan cukup meningkat, dimana dari seluruh kejadian yang tercatat, terdapat 17 kejadian dengan luas wilayah terbakar mencapai 29,5 hektare dan tersebar di seluruh kecamatan.

"Dengan kita sudah menetapkan status siaga karhutla, upaya-upaya dan langkah-langkah penanganan serta pengendalian dapat kita tingkatkan lebih intensif lagi," katanya.

Sementara itu, Kepala Stasiun Klimatologi Kalsel, Klaus Johannes Apoh Damanik mengatakan, seluruh wilayah Balangan secara umum sudah memasuki periode musim kemarau.

“Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada September dengan durasi sekitar 16 hingga 18 dasarian,” katanya.

Kondisi kemarau diperkirakan berlangsung hingga Oktober mendatang dan pengaruh El Nino diperkirakan berlanjut hingga awal 2027, sehingga curah hujan pada awal musim diprediksi masih sedikit.

Hal tersebut diharapkan dapat menjadi acuan bagi Pemkab Balangan untuk menentukan langkah-langkah antisipati penanganan karhutla. (fer/ra)

Pewarta: M Ferian Sadikin

Journalist | Editor | - Hulu Sungai Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Ajukan Perubahan APBD 2026, Bupati Barito Utara Komitmen Jaga Efektivitas Program Prioritas Daerah

Kam Agu 13 , 2026
"Usulan perubahan APBD 2026 diajukan agar alokasi anggaran bisa disesuaikan untuk menjaga efektivitas pelaksanaan program prioritas daerah demi kesejahteraan masyarakat Barito Utara"

You May Like

TABIRklip