Menolak Renta: Napak Tilas Para Petualang Tua

“Pendakian kali ini hanyalah napak tilas pendakian-pendakian yang telah kami lakukan saat masih aktif di Kelompok Pencinta Alam “Kompas Borneo” dulu. Semangat boleh masih tinggi, tapi usia dan kekuatan tidak bisa dipungkiri”

Penulis (tengah) bersama para “petualang tua” yang menolak renta (foto: TABIRkota/dok)

Oleh: Muhammad Ismail Syarkawi

USIA kami memang sudah tidak muda lagi. Tenaga juga sudah tidak sekuat dulu. Tapi, semangat kami masih tinggi dan menyala.

Bagi sebagian orang, Kawah Ijen setinggi 2.386 mdpl (meter di atas permukaan laut), hanyalah objek wisata biasa. Namun, bagi kami yang sudah lama tidak naik gunung dan berusia hampir 60 tahun, itu tantangan tersendiri.

Meski sempat ragu, akhirnya kami membulatkan tekad untuk melakukan pendakian ke gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, Jawa Timur itu.

Bagaimana tidak ragu, ketika menginjakan kaki di Paltuding (kaki Ijen), udara sangat dingin. Dari layar HP, suhu udara menunjukkan angka 14 derajat Celsius.

Bagi orang Banjar, suhu tersebut sudah sangat dingin. Kami sangat mengigil kedinginan sehabis mengambil air wudu untuk salat Isya.

Dari informasi penjaga penginapan, pada minggu sebelumnya suhu udara di daerah itu sempat di angka 4 derajat Celsius. Wow! Susah membayangkannya, seandainya kami tiba saat suhu seperti itu.

Untuk menyesuaikan diri, kami memutuskan untuk menginap satu hari di kaki Ijen. Malam esoknya, baru naik ke kawah. Dan malam itu, kami harus tidur dengan baju tiga lapis, kaos kaki dan selimut tebal.

Malam kedua di Paltuding, Senin (15/6), lebih dingin dari malam sebelumnya. Suhu udara 11 derajat Celsius. Malam itu, kami harus siap-siap melakukan pendakian pada pukul 02.00 dini hari.

Semua peralatan seperti tongkat pendaki, sarung tangan, masker, senter kepala, selimut darurat dan seluruh persyaratan pendakian telah kami siapkan, termasuk surat keterangan sehat dan tiket masuk kawasan.

Tiba di pintu masuk, antrean pendaki mengular di depat loket untuk menukar semua persyaratan dengan tiket/pass masuk kawasan pendakian.

Kami pun harus rela antre selama satu jam untuk bisa melakukan pendakian. Rencananya, pendakian dimulai pukul 02.00 pagi, molor menjadi pukul 03.00 WIB.

Dari hal tersebut, kami belajar bahwa harusnya mulai antre sejam sebelumnya agar bisa naik tepat waktu. Atau melalui jasa ‘open trip’.

Mereka yang menggunakan jasa tersebut tidak perlu mengantre di depan loket. Cukup duduk manis di warung sambil menikmati kopi panas. Setelah tiket didapat, langsung melakukan pendakian.

Tepat pukul 03.05 WIB, kami melakukan pendakian. Baru beberapa langkah dari pintu gerbang, sudah ada yang menawari kereta dorong.

“Ayo naik Lamborghini. Anti cape. Cukup duduk manis akan sampai ke puncak dan kami antar kembali dengan selamat,” rayu mereka.

Tarif kereta Rp1,5 juta pulang pergi. Kalau naik saja sejuta dan turunnya Rp500 ribu.

Kami menolak halus tawaran mereka dan memantapkan langkah untuk terus melakukan pendakian. Dinginnya udara mulai berkurang seiring dengan naiknya suhu tubuh akibat gerakan langkah. Tidak terasa Pos 1 dan 2 sudah terlampaui.

Dari Pos 2 ke Pos 3, tanjakan mulai terasa. Tongkat pendakian sudah mulai berperan dan napas pun mulai berat. Kami memutuskan untuk istirakat sebentar di Pos 3. Sepanjang perjalanan, tidak perlu takut kekurangan air minum (terutama di pos). Ada yang berjualan.

Melanjutkan perjalanan ke Pos 4 dan 5, godaan ‘Lamborghini’ makin massif, seiring dengan makin curamnya tanjakan yang harus dilewati. Terlebih lagi melihat cahaya senter yang mengular jauh di atas kami. Artinya, perjalanan masih panjang. Namun kami tidak tergoda dan terus memantapkan langkah, meski harus lebih pelan dan berat.

Di Pos 5 kami beristirahat dan melaksanakan salat Subuh. Keinginan untuk salat subuh di bibir Kawah Ijen tidak tercapai akibat terlambat memulai pendakian. Begitu juga keinginan menyaksikan matahari terbit, dipastikan terlewatkan.

Kalau saja kami bergerak lebih cepat, mungkin bisa menyaksikan matahari terbit. Tapi, kami tidak mau memaksakan diri dan menyesuaikan dengan usia saat ini.

Bagi kami, pendakian kali ini hanyalah napak tilas pendakian-pendakian yang telah kami lakukan saat masih aktif di Kelompok Pencinta Alam “Kompas Borneo” dulu. Semangat boleh masih tinggi, tapi usia dan kekuatan tidak bisa dipungkiri.

Pukul 05.50 WIB kami tiba di Kawah Ijen. Pemandangan indah luar biasa. Matahari sudah mulai bersinar lembut dan udara sangat sejuk. Kami sangat bersyukur masih diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk menikmati keindahan ciptaan-Nya.

Bagi kami, perjalanan kali ini sangat mengesankan. Meski sempat ragu akibat cuaca dingin dan surat keterangan sehat yang lambat didapat.

Surat sehat tidak mungkin kami siapkan dari Banjarbaru atau Banjarmasin, karena berlaku maksimal 3 hari sebelum pendakian. Sementara, kami berangkat dari Banjarmasin menggunakan kapal laut ke Surabaya. Dari Surabaya menggunakan kereta api kelas ekonomi ke Banyuwangi sekitar 6 jam perjalan. Malamnya, dari Banyuwangi langsung naik ke Paltuding.

Sebelumnya kami memperoleh informasi bahwa di Paltuding ada klinik kesehatan yang buka mulai pukul 16.00 sampai pukul 23.00 WIB untuk melayani pembuatan surat kesehatan.

Sayangnya, pada saat kami tiba di sana, klinik tersebut tidak buka. Artinya kami harus turun ke desa lain untuk memperoleh surat sehat. Akhirnya, melalui bantuan ibu penjaga penginapan, kami berhasil memperoleh surat sehat, meski baru kami pegang pada pukul 01.30 WIB.

Biasanya pendaki lain mengurus surat sehat di Kota Banyuwangi dan sekitarnya atau melalui bantuan jasa petugas/pengelola open trip yang mereka ikuti.

Setelah menikmati dan mendokumentasikan keindahan Ijen, kami bergegas turun agar tidak ketinggalan bus Damri yang akan berangkat pukul 09.00 WIB menuju Banyuwangi. Meski lutut terasa sakit, tidak sampai satu jam, kami sudah tiba di Paltuding. Tongkat pendakian kali ini sangat membantu menjaga keseimbangan dan membagi beban tubuh.

Pukul 09.15 WIB, bus DAMRI (Toyota Hiace) mulai meninggalkan Paltuding untuk membawa kami ke Banyuwangi. Dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi, kami menyeberang ke Pulau Bali untuk melakukan penyelaman dan snorkeling di Pulau Menjangan. Di Bali, kami menginap di Desa Pemuteran.

Usai menyelam dan snorkeling, kami akan kembali ke Banyuwangi untuk keesokan harinya melakukan arung jeram di Sungai Pakelan Atas Probolingo dengan jarak arung sekitar 12 KM, mulai dari Dusun Angin-angin dan finish di Dusun Gembleng, Desa Ranugedang dengan grade 2-3+. (bersambung)

TABIRkota

Dari Banua Untuk Dunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Tingkatkan Kompetensi Penyelamatan Ruang Terbatas, PT Indocement Tarjun Gelar PBK Confined Space Rescue

Sen Jun 22 , 2026
"PBK Confined Space Rescue diharapkan meningkatkan kompetensi, kesiapsiagaan dan keterampilan peserta dalam menghadapi situasi darurat"

You May Like

TABIRklip