Kisah Sukses Adaro Membangun Ekosistem Satwa Endemik di Area Pascatambang

Oleh: Rusmanadi
MEDIO Mei 2016. Publik dikejutkan dengan sebuah peristiwa memilukan yang merenggut paksa kehidupan satwa endemik Kalimantan, bekantan dan hirangan atau lutung kelabu (Trachypithecus cristatus).
Saat itu, pihak kepolisian meringkus lima pelaku pemburu liar di Desa Sirap, Kecamatan Juai, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan (Kalsel). Petugas mengamankan barang bukti tiga ekor bekantan dan dua ekor hirangan dalam kondisi mati di dalam karung.
Peristiwa interaksi bekantan dengan manusia dilaporkan beberapa kali terjadi di Balangan. Salah satunya, saat seekor anak bekantan ditemukan masuk dan tersesat di permukiman warga di kawasan Tungkap, Paringin Selatan.
Bekantan juga tercatat pernah mendekati area permukiman dan fasilitas warga di Teluk Karya, Lampihong. Di sana, primata berhidung panjang itu sempat terlihat terlilit kabel.
Rentetan peristiwa tersebut, menambah kelam catatan hidup populasi bekantan di Balangan. Bak jatuh tertimpa tangga, nasib bekantan semakin hari kian terdesak. Kehilangan habitat dan sumber makanan, terpisah dari kelompok, hingga berakhir di tangan pemburu liar. Tragis.
Namun, di tengah badai nasib yang semakin menghimpit dan ruang hidup yang semakin sempit, secercah harapan bagi bekantan muncul dari Area Model Pascatambang PT Adaro Indonesia di PIT Paringin.
* * *

Dilema Batu Bara dan Rumah yang Terfragmentasi
REALITAS di lapangan menunjukkan, ruang hidup satwa di Balangan semakin terimpit. Secara geografis, wilayah seluas 1.878 kilometer persegi tersebut, dikelilingi bentang alam yang dinamis dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Tabalong, Hulu Sungai Tengah (HST), Kotabaru, Hulu Sungai Utara (HSU), hingga Kabupaten Paser di Kalimantan Timur (Kaltim).
Berdasarkan data profil Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), alokasi ruang untuk sektor pertambangan memegang porsi terbesar di Balangan. Mencakup area seluas sekitar 77.455 hektare, yang didominasi operasi tambang terbuka batu bara ramah lingkungan. Sektor tersebut menjadi tulang punggung utama daerah, dengan menyumbang hingga 70,25 persen dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) kabupaten.
Selain tambang, sisa lahan lainnya terbagi atas perkebunan karet dan sawit sebagai penggerak ekonomi rakyat, serta kawasan pertanian seluas 32.715 hektare yang membentang di kecamatan dataran rendah seperti Juai dan Lampihong.
Sayangnya, pesatnya roda ekonomi tersebut membawa dampak ekologis yang nyata. Pantauan data satelit Global Forest Watch mencatat, Balangan kehilangan tutupan hutan alam rata-rata seluas 45 hektare per tahun.
Penyusutan tersebut umumnya terjadi di area Hutan Produksi (HP) dan Area Penggunaan Lain (APL) yang dipicu pembukaan lahan tambang, perluasan perkebunan, hingga bencana kebakaran hutan berkala.
Amputasi kawasan hijau, seketika memicu fragmentasi habitat, yaitu kondisi di mana hutan terpecah-pecah menjadi pulau-pulau kecil yang terisolasi. Bagi satwa yang sangat sensitif seperti bekantan, kondisi tersebut adalah petaka. Ruang jelajah mereka untuk mencari makan menjadi sangat terbatas.
Kawanan primata itu pun “dipaksa” terisolasi di area yang sempit. Dampaknya fatal, selain meningkatkan risiko perkawinan sedarah (inbreeding) yang merusak genetika kelompok, mereka (sekali lagi) “dipaksa” keluar hutan untuk mencari pangan alternatif. Di titik inilah, konflik berdarah dengan manusia di permukiman warga dimulai.
Kombinasi antara alih fungsi lahan, kebakaran hutan dan ancaman senapan pemburu liar, membuat bekantan kian meregang nyawa. Ironisnya, nasib tragis itu menimpa primata yang sebenarnya memegang status terhormat berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Kalsel Nomor 29 Tahun 1990 sebagai Maskot atau Satwa Identitas Daerah Provinsi Kalimantan Selatan.
* * *

Sang Pemalu yang Kian Terdesak
BEKANTAN (Nasalis larvatus) adalah primata unik yang dikenal pemalu dan non-agresif. Berbeda dengan jenis kera lain yang gemar bertarung memperebutkan wilayah, satwa endemik Kalimantan itu hidup dalam koloni yang damai serta memiliki toleransi sosial yang tinggi.
Sekitar 70 persen waktu mereka dihabiskan di atas pohon untuk mengunyah pucuk daun muda dan beristirahat atau disebut arboreal. Menjelang mentari terbenam, seluruh anggota koloni akan berpindah ke tepi perairan untuk mencari “pohon tidur” dan memilih dahan yang kokoh di atas air sebagai perlindungan alami dari predator darat seperti macan dahan.
Kelemahan terbesar primata berhidung panjang itu adalah sifatnya yang sangat sensitif terhadap gangguan manusia. Jika vegetasi pohon terputus, bekantan terpaksa turun ke tanah atau berenang melintasi sungai menggunakan selaput tipis di sela jari-jemari mereka.
Jika ruang hidupnya diusik, pejantan dominan hanya bisa mengeluarkan suara lenguhan keras yang disebut honking, sebuah alarm peringatan keputusasaan agar koloni segera lari menjauh.
Karena sifatnya yang rentan, International Union for Conservation of Nature (IUCN) memasukkan bekantan ke dalam status Endangered atau Genting/Terancam Punah. Di Indonesia, satwa tersebut dilindungi ketat oleh Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 dan Permen LHK P.106/2018.
Di Balangan, garis hidup bekantan membentang sepanjang aliran Sungai Balangan sejauh 30 kilometer yang membelah kabupaten dan melewati delapan kecamatan, masing-masing Tebing Tinggi, Halong, Juai, Awayan, Batu Mandi, Paringin, Paringin Selatan hingga Lampihong.
Riset dari peneliti Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin, Mochamad Arief Soendjoto dan Nazaruddin, mengonfirmasi 13 titik sebaran bekantan di Balangan. Ironisnya, bekantan-bekantan tersebut tidak lagi tinggal di hutan perawan, melainkan bertahan hidup di sisa-sisa hutan rawa galam (Melaleuca cajuputi) dan hutan karet rakyat (Hevea brasiliensis).
Alih fungsi lahan, rusaknya vegetasi riparian (vegetasi alami yang tumbuh di sepanjang tepi badan air), pembalakan liar, hingga konflik horizontal dengan manusia, membuat ruang gerak “sang pemalu” kian terkunci.
Di ujung ranting-ranting pohon karet Balangan yang kian menipis, jeritan honking bekantan seolah menjadi lonceng kematian bagi populasinya yang tersisa. Kehilangan rumah, terasing dari kelompok dan selalu dihantui moncong senapan pemburu, membuat masa depan primata pemalu itu betul-betul berada di ujung tanduk.
Di tengah kepungan semen, aspal dan bentang tambang yang membelah bumi Balangan, secercah asa itu akhirnya lahir di PIT Paringin. Langkah konkret Adaro dalam restorasi area pascatambang, kini menjadi satu-satunya benteng pertahanan terakhir yang menolak membiarkan sang maskot daerah punah dalam kesunyian.
* * *

Oase Hijau di PIT Paringin
ASA bagi kelestarian maskot Kalsel tersebut akhirnya terwujud di Area Model Pascatambang PT Adaro Indonesia di PIT Paringin, Kecamatan Paringin, Balangan. Lahan bekas tambang batubara seluas 28 hektare tersebut, kini bertransformasi menjadi oase hijau yang menakjubkan.
Di tengah kawasan, membentang sebuah danau pascatambang sedalam 38 meter dengan kualitas air yang dikelola ketat sesuai baku mutu lingkungan.
Menyulap lubang tambang raksasa menjadi suaka satwa yang ramah bagi bekantan, tentu bukan perkara mudah.
Menurut Health Safety Environment Division Head PT Adaro Indonesia, Rusdi Husin, Adaro menerapkan strategi berbasis Penelitian dan Pengembangan (Research and Development) yang terukur untuk membangun Sabuk Hijau Ekologi (Ecological Green Belt).
“Langkah teknis pertama yang krusial adalah pengayaan vegetasi melalui penanaman pohon pionir cepat tumbuh (fast-growing species) untuk memulihkan kesuburan tanah eks-tambang,” ujarnya.
Sejalan dengan hal itu, Mine Closure Program Management Section Head PT Adaro Indonesia, Riza Novian menegaskan, bahwa keberlanjutan lingkungan pascatambang bertumpu pada ketepatan pemilihan vegetasi.
“Kami hanya menanam vegetasi yang teruji secara ekologis, yang mampu merekayasa kembali struktur tanah, mengunci cadangan air, menekan laju erosi, memaksimalisasi penyerapan karbon dan menjadi rumah yang aman bagi satwa liar,” katanya.
Setelah struktur tanah stabil, Adaro menanam berbagai jenis pohon buah penunjang pangan satwa. Tanaman dari keluarga Ficus, seperti kariwaya atau beringin, menjadi tanaman dominan yang ditanam secara masif. Tumbuhan tersebut menjadi sumber makanan utama yang menarik minat satwa untuk kembali datang.
Bukan hanya soal pangan, faktor keamanan koloni juga menjadi prioritas utama. Mine Closure Monitoring and Evaluation Supervisor PT Adaro Indonesia, Randy Saputra menambahkan, rancangan restorasi yang dijalankan tidak sekadar menyediakan makanan, tetapi juga memitigasi potensi ancaman luar.
“Adaro secara ketat memasang rambu-rambu larangan berburu di seluruh penjuru area pascatambang serta melakukan patroli berkala,” tambahnya.
Hasilnya, ekosistem buatan tersebut menjelma menjadi zona aman yang bebas dari ancaman manusia.
Untuk memastikan keamanan dan kesehatan satwa tanpa mengganggu aktivitas alami mereka, tim survei Adaro memanfaatkan teknologi canggih berupa drone thermal (pesawat nirawak sensor panas) untuk melakukan monitoring berkala. Teknologi tersebut mampu menembus rimbunnya kanopi pohon untuk mendeteksi sebaran, jumlah kelompok, hingga estimasi usia bekantan secara akurat.
Dalam upaya pelestariannya, Adaro menggandeng tim peneliti dari Fakultas Kehutanan ULM Banjarmasin serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel.
Kerja keras berlandaskan sains lingkungan tersebut membuahkan hasil manis. Berdasarkan monitoring terbaru, tercatat sedikitnya 28 ekor bekantan telah menetap secara permanen dan membentuk koloni baru di Area Model Pascatambang Adaro di PIT Paringin.
Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian Mochamad Arief Soendjoto dan Nazaruddin yang menyebutkan adanya populasi bekantan yang hidup di bekas area tambang batubara yang telah direklamasi dan direvegetasi.
Sementara itu, Land and Community Management Department Head PT Adaro Indonesia, Djoko Soesilo mengatakan, indikator utama keberhasilan reklamasi bukanlah seberapa hijau hamparan lahan yang terlihat di permukaan, melainkan diukur dari kemampuan kawasan tersebut untuk melahirkan manfaat ekonomi dan ekologi yang mengalir secara berkelanjutan bagi masyarakat serta alam sekitar.
“Komitmen kami adalah mengubah jejak tambang menjadi warisan hijau, di mana area pascatambang dirancang untuk tumbuh menjadi ekosistem masa depan yang tangguh, produktif dan mampu menghidupi keselarasan alam serta kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan,” katanya.
* * *

Rumah yang Tak Lagi Terfragmentasi
KEHADIRAN 28 ekor bekantan di Area Model Pascatambang Adaro di PIT Paringin, seolah mengirimkan pesan kuat kepada dunia, bahwa industri pertambangan serta kelestarian keanekaragaman hayati dapat berjalan beriringan, jika ada kemauan dan tanggung jawab yang tulus.
Kehadiran primata berhidung mancung khas Kalimantan itu, menjadi indikator utama bahwa pemulihan ekosistem di lahan bekas tambang batu bara, berjalan dengan sukses dan menjadi bukti sahih bahwa alam memiliki kemampuan untuk pulih jika ditangani dengan komitmen yang tepat.
Lubang tambang yang dulunya bising oleh deru alat berat, kini berganti menjadi simfoni alam, riuh oleh suara kepakan sayap burung, gemericik air danau dan sesekali lenguhan honking kawanan bekantan yang melompat riang di pucuk pohon beringin.
Perjalanan memulihkan ekosistem tersebut memang belum sepenuhnya usai, namun Area Model Pascatambang Adaro di PIT Paringin telah menancapkan standar baru dalam sejarah pascatambang di Indonesia.
Di sini, di bawah rimbunnya Sabuk Hijau Ekologi Adaro, sang primata pemalu tidak lagi harus berlari ketakutan mencari tempat bernaung.
Bekantan telah menemukan rumah baru yang sesungguhnya, sebuah tempat di mana masa depan populasi mereka tidak lagi terfragmentasi, melainkan tumbuh subur bersama hijaunya harapan baru.***

Pemimpin Umum media online TABIRkota.com




