
BARABAI (TABIRkota) — Influencer (publik figur versi digital) di bidang dakwah, H Ahmad Kamal, mendukung program pemerintah yang langsung menyentuh “akar rumput” atau seluruh lapisan masyarakat.
Menurutnya, program pemerintah berupa Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dinilai menyentuh kebutuhan manusia yang paling mendasar, yakni makanan dan kesehatan.
“Kalau pembangunan manusia, memang tidak cukup hanya berbicara tentang pendidikan, anak yang kita harapkan menjadi generasi penerus juga harus tumbuh dengan kesehatan dan gizi yang baik,” ujarnya, di Barabai, Ibu Kota HST, Arba (24/9).
Sebagai orang yang lahir dan tinggal di Barabai, katanya, pandangan tentang MBG memiliki potensi yang sangat besar bagi daerah.
“HST ini kan sangat dekat dengan pertanian dan agribisnis, jadi kalau program sebesar MBG dapat l mendorong pemanfaatan hasil pertanian, peternakan, perikanan, dan produk pangan masyarakat lokal, manfaatnya tentu lebih luas,” katanya.
Anak-anak mendapatkan makanan bergizi, sementara masyarakat yang memproduksi pangan juga mendapatkan pasar.
Dari sisi pendidikan pesantren, program tersebut dinilai sejalan dengan cara pandang Imam al-Ghazali.
Dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din membicarakan kesehatan badan dan makanan sebagai sesuatu yang menunjang manusia dalam menjalankan ilmu dan amal, jadi menjaga tubuh bukan sesuatu yang terpisah dari pendidikan manusia.
Karena itu, tambah H Ahmad Kamal, melihat MBG dan CKG sebagai ikhtiar yang baik.
“Tentu semakin baik lagi kalau pelaksanaannya terus disempurnakan, sehingga tujuan dari program tersebut benar-benar sampai kepada masyarakat,” tambahnya.
Dari program tersebut, masyarakat mendapatkan akses terhadap makanan bergizi dan pemeriksaan kesehatan yang mungkin sebelumnya tidak selalu mudah mereka dapatkan.
Untuk anak-anak, makanan bergizi tentu sangat penting karena mereka sedang berada dalam masa pertumbuhan sekaligus masa belajar.
Kemudian CKG juga tak kalah bermanfaat, karena masyarakat diajak untuk mengetahui kondisi tubuhnya secara dini, bukan menunggu sakit baru memeriksakan diri.
Kalau dilihat dari pemikiran Imam al-Ghazali, beliau tidak melihat badan sebagai sesuatu yang boleh diabaikan, melainkan sarana manusia untuk melakukan aktivitas kehidupan, mencari ilmu, beribadah dan beramal.
Jadi menjaga kesehatan itu bukan sekadar urusan fisik, namun ada tujuan yang lebih besar di belakangnya.
Menurut H Ahmad Kamal, ia melihat MBG juga berpotensi memberikan manfaat ekonomi, karena kalau bahan pangan yang digunakan semakin banyak berasal dari masyarakat sekitar, maka program tersebut tidak hanya memberi makan anak sekolah, tetapi juga seharusnya dapat membantu menciptakan perputaran ekonomi di tingkat masyarakat.
“Tentunya dalam pelaksanaan program tersebut, kita juga mendengar berbagai pemberitaan dan masukan dari masyarakat, namun itu menjadi bagian dari proses penyempurnaan,” ujarnya.
Program tersebut tidak harus langsung sempurna sejak awal, paling penting ada kemauan untuk terus memperbaiki dan pemerintah sendiri memang terus melakukan pembenahan terhadap standar dan pengawasan MBG.
Misalnya, BGN pada September 2026 kembali menghentikan sementara sejumlah SPPG yang belum memenuhi persyaratan higiene dan sanitasi.
Hal tersebut, kata H Ahmad Kamal, menunjukkan bahwa kualitas pelaksanaan memang terus diperhatikan.
“Begitu pula CKG, program tersebut memang bagus, karena masyarakat diajak membangun kebiasaan mengetahui kondisi kesehatan sebelum muncul persoalan yang lebih besar,” katanya.
Kemenkes juga sekarang menekankan bahwa CKG bukan hanya pemeriksaan, tetapi juga tindak lanjut terhadap hasil pemeriksaan.
Sebagai pengajar di pesantren, H Ahmad Kamal melihat bahwa mendidik manusia itu tidak hanya mengisi pikirannya dengan ilmu, tetapi juga memperhatikan kondisi manusia itu sendiri.
Sejalan kembali dengan pemikiran Imam al-Ghazali, dalam Ihya’, beliau menjelaskan hubungan antara kesehatan badan, makanan, ilmu dan amal, manusia membutuhkan badan yang sehat agar dapat menjalankan berbagai aktivitasnya dengan baik.
Maka ketika memberikan makanan bergizi kepada anak, sebenarnya tidak hanya sedang memberikan makanan, tetapi membantu menyediakan salah satu bekal bagi mereka untuk belajar, tumbuh dan kemudian menjadi manusia yang bermanfaat.
Hal tersebut sangat relevan, karena HST punya masyarakat yang hidup dari pertanian dan berbagai kegiatan agribisnis.
Diharapkan MBG ke depan juga dapat semakin terhubung dengan potensi pangan lokal di daerah.
Sederhananya, tambah H Ahmad Kamal, hasil pertanian masyarakat masuk ke dapur MBG, kemudian menjadi makanan bergizi untuk anak-anak, apalagi jika l karyawan dapur tersebut diserap dari masyarakat lokal.
“Ada hubungan antara tanah, petani, makanan, anak-anak, pendidikan dan masa depan daerah,” tambahnya.
Diharapkan masyarakat memanfaatkan program tersebut dengan sebaik-baiknya.
Untuk MBG, jangan hanya dilihat sebagai makanan gratis, mari lihat sebagai bagian dari perhatian terhadap kesehatan dan pertumbuhan anak.
Orang tua juga tetap punya peran, anak-anak tetap perlu diajarkan tentang makanan yang sehat, kebersihan, pola hidup yang baik dan rasa syukur terhadap makanan.
Sedangkan CKG, masyarakat diharapkan tidak menunggu sakit untuk mulai peduli terhadap kesehatan, kalau memang ada kesempatan untuk memeriksakan diri, manfaatkan.
Tubuh merupakan amanah, menjaga kesehatan bukan hanya supaya panjang umur, tetapi supaya umur yang dapat digunakan untuk belajar, beribadah, bekerja dan memberikan manfaat kepada orang lain.
Untuk pemerintah, diharapkan juga agar program yang baik tersebut dapat terus diperbaiki dan semakin disempurnakan.
Karena yang penting bukan hanya programnya ada, tetapi manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.
Khusus untuk MBG, manfaatnya nanti tidak berhenti pada anak-anak yang mendapatkan makanan, namun menghidupkan petani, peternak, nelayan, UMKM dan pelaku usaha pangan di daerah.
Anak yang mendapatkan gizi, masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dan daerah mendapatkan generasi yang lebih sehat. (fer)



