
BARABAI (TABIRkota) — Gusdurian Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel) meminta generasi muda untuk memaknai sejarah dalam momentum september hitam.
Koordinator Gusdurian Barabai, Fahriansyah mengatakan, september hitam bukan sekadar mengingat tanggal dan nama-nama peristiwa kelam dalam sejarah bangsa.
“September hitam merupakan momentum untuk merawat ingatan, menghormati korban dan belajar agar kekerasan serta ketidakadilan tidak berulang,” katanya, di Barabai, Ibu Kota HST, Arba (23/9).
Pada dasarnya, ujarnya, HAM bukan sesuatu yang asing bagi masyarakat, dalam UU Nomor 39 Tahun 1999 menegaskan bahwa hak asasi melekat pada setiap manusia dan negara, pemerintah maupun organisasi mempunyai kewajiban untuk mengakui serta melindunginya.
“Komnas HAM juga memiliki mandat untuk melakukan pengkajian, penyuluhan, pemantauan dan mediasi terkait HAM,” katanya.
Karena itu, bagi Gusdurian Barabai, mengingat bukan berarti membuka luka untuk mempertajam perbedaan, tetapi membuka ingatan untuk mengambil pelajaran
Masyarakat boleh berbeda agama, pilihan politik, organisasi, suku, latar belakang sosial maupun pandangan, tetapi jangan sampai perbedaan itu membuat kehilangan kemanusiaan.
Semangat tersebut, tambah Fahriansyah, sangat dekat dengan nilai-nilai yang diwariskan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yakni kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap keberagaman
“Di Banua kita, nilai tersebut harus diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari: dengan tidak melakukan perundungan, tidak melakukan kekerasan, tidak menyebarkan kebencian, tidak mudah menghakimi orang lain, serta berani membela mereka yang diperlakukan tidak adil,” tambahnya.
Generasi muda jangan hanya menjadi generasi yang mengingat sejarah, tetapi harus menjadi generasi yang belajar dari sejarah.
Anak muda hari ini mempunyai kekuatan yang sangat besar, yakni pendidikan, komunitas, media sosial dan teknologi.
Ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan, seperti berani belajar sejarah secara kritis, jangan hanya menerima informasi dari potongan video, unggahan media sosial atau narasi yang belum jelas sumbernya.
Membiasakan tabayyun dengan memeriksa informasi sebelum membagikan, jangan menjadikan media sosial sebagai tempat menyebarkan fitnah, hoaks dan kebencian
Menolak kekerasan dalam bentuk apa pun, kekerasan bukan hanya berupa pukulan, namun bullying, penghinaan, diskriminasi, persekusi, doxing dan ujaran kebencian juga dapat merusak martabat manusia.
Membangun pertemanan lintas perbedaan, jangan hanya berteman dengan orang yang selalu sepemikiran.
Mulailah menghormati HAM dari lingkungan terdekat, seperti rumah, sekolah, kampus, organisasi, tempat kerja dan ruang digital.
Jangan berbicara tentang perdamaian yang besar kalau kita masih senang merendahkan orang lain dalam percakapan kecil
Menurut Fahriansyah, Gusdurian Barabai selama ini berusaha menerjemahkan nilai-nilai Gus Dur bukan hanya melalui diskusi, tetapi juga melalui pendidikan, kemanusiaan, demokrasi, toleransi dan kepedulian lingkungan.
“Beberapa kegiatan yang terdokumentasi, yakni Gusdurian Mengajar, Gus Dur Go To Campus, Forum keadilan ekologi, kerja kemanusiaan dan kerelawanan,” ujarnya.
Bagi Gusdurian, pendidikan HAM tidak selalu harus berbentuk seminar tentang HAM, tetapi mengajarkan anak untuk menghormati temannya, mengajak pemuda menjaga lingkungan, membantu korban bencana, membangun dialog lintas kelompok dan mencegah kekerasan—semuanya adalah bagian dari pendidikan kemanusiaan.
Generasi saat ini membutuhkan ruang diskusi, bukan ruang penghakiman, perbedaan pendapat itu sehat.
Yang berbahaya adalah ketika perbedaan pendapat berubah menjadi kebencian dan kekerasan.
Karena itu, ketika membicarakan isu HAM, Gusdurian Barabai berusaha membangun beberapa prinsip, seperti data sebelum emosi, sumber sebelum kesimpulan, dialog sebelum penghakiman, tabayyun sebelum menyebarkan dan kemanusiaan sebelum kepentingan kelompok.
“Kita juga perlu membiasakan diri membedakan antara fakta, kesaksian, analisis dan opini,” kata Fahriansyah.
Dalam isu pelanggaran HAM masa lalu, misalnya, Komnas HAM mempunyai dokumentasi dan hasil penyelidikan terhadap berbagai peristiwa.
Karena itu, pembicaraan tentang sejarah sebaiknya merujuk pada sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan sekadar narasi yang beredar di media sosial.
Dan satu hal yang penting, yakni membicarakan HAM tidak harus berarti memusuhi negara, aparat, agama, organisasi atau kelompok tertentu
Justru negara demokratis membutuhkan masyarakat yang kritis sekaligus bertanggung jawab.
Pemuda boleh mengkritik kebijakan, tetapi jangan menyebarkan kebencian, boleh berbeda pendapat, tetapi jangan merendahkan manusia dan boleh memperjuangkan keadilan, tetapi jangan menggunakan kekerasan.
Diharapkan momen september hitam tidak berhenti sebagai tren tahunan di media sosial.
Jangan sampai generasi muda ramai menggunakan tagar tentang HAM, tetapi masih melakukan bullying kepada teman sendiri.
Jangan sampai berbicara tentang toleransi, tetapi tidak mau mendengar orang yang berbeda.
Jangan sampai mengenang korban kekerasan, tetapi dalam kehidupan sehari-hari masih mudah melakukan kekerasan verbal kepada orang lain.
Mari menjadikan september sebagai bulan untuk merawat ingatan, merawat kemanusiaan dan merawat persaudaraan.
Sebagai penggerak Gusdurian Barabai, anggota mempunyai tanggung jawab yang sama, yakni menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi permusuhan dan kritik tidak berubah menjadi kebencian.
Pesan Gus Dur sangat relevan untuk generasi saat ini, kemanusiaan harus ditempatkan lebih dahulu daripada sekat-sekat identitas.
Karena pada akhirnya, sebelum menjadi NU, Muhammadiyah, Kristen, Hindu, Buddha, Islam, aktivis, mahasiswa, guru, pejabat, masyarakat biasa atau bagian dari kelompok apa pun, kita adalah manusia.
Dan setiap manusia mempunyai martabat yang harus dihormati. (fer)



