
BUNTOK (TABIRkota) – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) eceran di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah (Kalteng) dalam dua pekan terakhir, dipastikan tidak berdampak pada distribusi dan penjualan bahan pokok (bapok) oleh Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Bulog) setempat.
Menurut Kepala Perum Bulog Barsel, Fariz Jaya, isu kenaikan BBM beberapa waktu lalu yang sempat mencuat namun tidak terealisasi, justru memicu kenaikan harga di tingkat pengecer.
“Meski begitu, hingga saat ini tidak berpengaruh pada Perum Bulog Barsel, baik dari pendistribusian hingga penjualan, masih tidak ada kenaikan pada kami,” ujarnya di Buntok, ibu kota Barsel, Arba (15/4).
Ia mengatakan, komoditas yang berpotensi mengalami kenaikan harga saat ini adalah gula pasir, namun bukan disebabkan isu BBM, melainkan dari pihak distributor.
“Untuk harga gula, dari distributor yang mengalami kenaikan harga dan rencananya kita akan menyesuaikan, bila sudah mengambil stok baru,” katanya.
Stok gula di Perum Bulog Barsel saat ini masih dalam kondisi aman dan mencukupi kebutuhan masyarakat.
Ia menambahkan, masyarakat yang menemukan harga gula di pasaran sudah naik, dapat langsung mengecek ketersediaan di Perum Bulog Barsel.
“Di Bulog harga jual jauh lebih murah dari harga pasaran dan untuk stoknya, masih kurang lebih 10 ton, baik dalam kemasan plastik maupun kemasan lainnya,” tambahnya.
Dengan kondisi tersebut, Bulog Barsel memastikan ketersediaan bahan pokok tetap terjaga dan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap lonjakan harga yang tidak wajar di pasaran.
Sebelumnya, isu kenaikan BBM membuat harga di tingkat pengecer melambung, dimana Pertamax dikisaran harga Rp17 hingga Rp18 ribu perliter dan Rp15 hingga Rp16 ribu perliter untuk jenis Pertalite. (mad/ra)




