Irama Dibalik Sunyi

“Silent Music membawa para peserta untuk “tenggelam” dalam alunan nada yang hanya dapat dinikmati oleh mereka pengguna headphone nirkabel, tanpa khawatir soal polusi suara”

Para peserta mendengarkan silent music menggunakan headphone nirkabel (foto: TABIRkota/ist)

ALUNAN melodi dari gitar, bak anak panah yang melesat memecah hening malam. Not balok seakan memiliki sayap dan beterbangan mengelilingi audiens yang hanyut dalam suasana alam.

Di sisi lain, denting suara cangkir kopi dan suasana alam di Jungle Coffe Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel) akan tetap terdengar jelas di telinga konsumen, tanpa terganggu dengan alunan musik yang tengah dimainkan.

Dalam sebuah perpaduan yang belum pernah terjadi antara musik dan alam, Jazzling Eastcape Jungle Camp bekerja sama dengan Nusaraya Project Movement (NSAPM) dan Swara Sunyi menggelar Silent Music pertama di Kalimantan pada Sabtu (15/6) lalu.

NSAPM dan Swara Sunyi “menyulap” Jungle Coffe Banjarmasin menjadi pengalaman auditori yang unik dan baru bagi para peserta dalam menikmati musik. Dengan menekankan kekuatan akustik senyap dan inovasi berkelanjutan.

BACA JUGA :  Melihat Kiswah, Jejak Keagungan Ka'bah yang Menyentuh Jakarta

Alih-alih menggunakan pengeras suara, para peserta akan diberi headphone nirkabel yang memungkinkan mereka mendengarkan irama dibalik sunyi tanpa khawatir polusi suara. Para peserta juga dibuat “terhipnotis” dengan suara berkualitas tinggi sesuai preferensi mereka.

Penampilan band saat event silent music (foto: TABIRkota/ist)

Bukan hanya peserta, deretan band dan pelaku seni seperti Islan Band, Long Chair, El Quando, komika Naufal Raka dan Ahkmad Anwari serta DJ berkaraoke Selatan Consulate dibuat takjub dengan pengalaman yang intim melalui alunan musik mereka sendiri.

Jazzling Eastcape Jungle Camp juga menggiring penonton untuk merasakan berbagai engagement, seperti Royal Moment, Royal Beat, Royal Light, Royal Relaxation, Drink and Barbaque khas Jungle Coffee.

Tentunya, engangement tersebut juga memberikan pengalaman mendengar musik, namun masih bisa menikmati suasana. Seperti Royal Light yang merupakan sebuah wahana foto dengan latar cahaya unik.

BACA JUGA :  Lebaran Ketupat Tak Pengaruhi Omset "Urung" di Kampung Ketupat Banjarmasin

Royal Realxation adalah wahana massage untuk membuat tubuh bersantai. Kemudian Royal Beat, wahana Virtual Reality (VR) yang dapat dimainkan penonton dan beberapa engagement menyenangkan lainnya.

“Sudah banyak festival musik yang ditonton, namun baru kali ini saya merasakan pengalaman seperti nonton konser pribadi hanya untuk saya dengan kualitas suara sangat bagus,” ujar salah satu penonton, Feriadhi.

Silent Music telah membuka ruang inovasi masa depan dalam skena musik Kalimantan. Dengan tujuan mendorong batas inovasi dan kreatifitas dalam industri kreatif dapat didobrak agar menciptakan kemungkinan baru lainnya.

“Luar biasa, melihat acara yang tidak hanya fokus pada musik tetapi juga peduli terhadap lingkungan dan komunitas, semoga lebih banyak lagi event seperti ini di masa depan,” kata Munir Shadikin.

BACA JUGA :  Batumbang apam, Antara Munajat dan Harapan

Keahlian NSAPM dalam musik pertunjukan dan karya perintis Swara Sunyi akustik senyap memberikan sinergi sempurna untuk acara yang pertama kali dilakukan di Banjarmasin bahkan Kalimantan tersebut.

Melalui upaya kolaboratif Jazzling Eastcape Jungle Camp, NSAPM dan Swara Sunyi, para peserta diharapkan mendapat pengalaman musik yang unik dengan menggabungkan inovasi, keberlanjutan dan keterlibatan komunitas.

Acara tersebut juga tidak hanya menunjukkan potensi teknologi musik senyap, tetapi menekankan pentingnya menciptakan event sadar lingkungan sebagai langkah pertama dalam arah baru untuk festival musik di Kalimantan dan menjanjikan masa depan cerah para pecinta musik serta berbagai inovasi kreatif. (fer)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Geger! Warga Karatungan HST Temukan Jabang Bayi di "Kabun Gatah"

Kam Jun 20 , 2024
"Jabang bayi ditemukan warga saat hendak pergi "manurih" atau menyadap karet sekitar pukul 05.00 Wita"

You May Like

TABIRklip