
Oleh: Akhmad Madani
KABUT tipis menggantung di permukaan Sungai Barito. Perlahan, selimut putih itu tersibak oleh deru mesin ketinting (perahu kecil bermesin) yang membelah aliran sungai, membawa warga menyusuri urat nadi kehidupan di wilayah selatan Kalimantan Tengah (Kalteng).
Di wilayah perairan seperti Kecamatan Jenamas dan Dusun Hilir, sungai bukan sekadar bentang alam. Ia adalah jalan raya, sumber penghidupan, sekaligus penghubung antara satu kehidupan dengan kehidupan lainnya.
Namun, hidup di antara aliran sungai dan hamparan rawa menyimpan tantangan tersendiri.
Ketika seseorang membutuhkan pertolongan medis, jarak bisa menjadi persoalan. Ketika keluarga ingin memperbaiki taraf hidup, keterbatasan modal dan pengetahuan usaha dapat menjadi tembok penghalang.
Dan ketika usia mulai senja serta penglihatan perlahan meredup, dunia yang sebelumnya luas bahkan dapat menyempit hanya sebatas bayang-bayang.
Begitulah sebagian wajah kehidupan di pelosok Kabupaten Barito Selatan (Barsel). Keterbatasan akses dasar, mulai dari layanan darurat kesehatan hingga permodalan ekonomi, pernah menjadi tembok tebal yang membatasi ruang gerak masyarakat.
Namun, kemandirian sebuah wilayah tidak lahir dari bantuan yang datang sekejap kemudian menghilang. Ia tumbuh dari fondasi keberlanjutan atau sustainability yang dibangun perlahan, dirawat dari tahun ke tahun, lalu dibiarkan mengakar hingga menyentuh kehidupan masyarakat paling bawah.
Di Bumi Dahani Dahanai (sebutan lain untuk Barito Selatan, red), jejak itu terhampar dalam perjalanan panjang sinergi antara Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat dengan dunia usaha.
Dari sebuah sepeda motor ambulans yang menembus kawasan rawa, tangan-tangan tenaga medis yang mengembalikan penglihatan warga, panggung pembinaan UMKM yang melahirkan wirausahawan baru, hingga kesempatan pendidikan bagi generasi muda.
Satu demi satu, ikhtiar itu menganyam asa. ***
Menembus Rawa, Mendekatkan Pertolongan
KESEHATAN menjadi salah satu fondasi utama menuju masyarakat yang mandiri. Tanpa raga yang sehat, produktivitas hanya akan menjadi angan.
Jejak kepedulian terhadap kesehatan, terukir pada 23 Februari 2021 silam, saat Bupati Barsel, Eddy Raya Samsuri bersama Wakil Bupati (Wabup) Satya Titiek Atyani Djoedir kala itu, menerima secara simbolis bantuan dua unit sepeda motor ambulans dari program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Adaro Indonesia.
Bagi masyarakat perkotaan, sepeda motor mungkin hanyalah kendaraan untuk menunjang mobilitas sehari-hari. Namun, di wilayah yang dikelilingi rawa dan perairan dengan akses jalan terbatas, kendaraan tersebut dapat berarti jauh lebih besar.
Kehadiran dua armada roda dua tersebut menjadi salah satu solusi untuk mendekatkan akses pelayanan medis darurat kepada masyarakat di kawasan hilir yang sulit dijangkau kendaraan roda empat.
Jarak yang sebelumnya menjadi penghalang perlahan dipangkas dan pertolongan dibuat menjadi lebih dekat.
Namun, perjalanan membangun kualitas kesehatan masyarakat Barsel tidak berhenti di sana.
Tahun berganti, tantangan pun berubah dan komitmen itu menemukan bentuk berikutnya. ***
Ketika Dunia Kembali Terang
BAGI seseorang yang bertahun-tahun hidup dengan penglihatan kabur akibat katarak, cahaya mungkin menjadi sesuatu yang dirindukan.
Wajah anak dan cucu tak lagi terlihat jelas. Langkah kaki harus semakin hati-hati. Aktivitas sederhana yang dahulu dapat dilakukan sendiri, perlahan membutuhkan bantuan orang lain.
Kemandirian pun ikut memudar bersama penglihatan.
Di Barsel, harapan untuk kembali melihat itu hadir melalui kegiatan operasi katarak gratis yang dilaksanakan Pemkab setempat bersama Adaro Group pada 13 – 14 November 2024 dan dilanjutkan pada 24 November 2025, pada program Operasi Buta Katarak Gratis di Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Barsel, Buntok.
Konsistensi tersebut kembali ditegaskan pada Arba, 7 Oktober 2026 melalui program bertajuk “Satu Cahaya, Berjuta Cerita”, di mana sebanyak 51 warga Barsel kembali menjadi penerima manfaat operasi katarak gratis di Labkesda Buntok.
Program tersebut merupakan buah kolaborasi Pemkab Barsel melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama PT Adaro Indonesia, Yayasan Amanah Bangun Negeri (YABN), PT Bukit Makmur Mandiri Utama (BUMA), dan PT Saptaindra Sejati (SIS), dengan menggandeng tim medis Pelita Pusaka Indomedika.
Bukan sekadar tindakan medis, operasi tersebut membawa misi yang jauh lebih besar, yaitu mengembalikan kualitas hidup dan kemandirian masyarakat.
Wabup Barsel, Kristianto Yudha, menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor untuk memperluas akses kesehatan, sekaligus menekan angka katarak di daerah.
“Program tersebut wujud perhatian pemerintah dalam menekan angka buta katarak dan memberikan kesempatan bagi masyarakat mendapatkan pengobatan serta meningkatkan kualitas hidup,” ujarnya di Buntok, ibu kota Barsel, Kamis (8/10/2026) lalu.
Menurut Govrel Department Head PT Adaro Indonesia, M Antoni Kurniawan, sejak 2003, Adaro bersama para mitra telah membantu sekitar 7.500 mata melalui operasi katarak.
Khusus pada 2026, program tersebut ditargetkan mampu menjangkau 397 mata di enam kabupaten wilayah operasional perusahaan.
Angka-angka itu tercatat rapi di atas laporan. Namun, makna sesungguhnya berada di balik setiap pasang mata yang kembali mampu melihat.
Ketika perban dibuka, dunia yang selama ini tertutup kabut perlahan kembali memiliki warna. Wajah keluarga kembali terlihat dan langkah kaki yang kembali menemukan keberanian, menghadirkan tawa bercampur air mata haru.
Bagi para lansia yang aktivitasnya sempat terbelenggu karena kehilangan penglihatan, operasi tersebut bukan sekadar memulihkan fungsi mata. Ia mengembalikan sesuatu yang jauh lebih berharga: kemandirian. ***
Dari Stadion Batuah, Asa Ekonomi Bertumbuh
RAGA yang sehat membutuhkan ruang untuk berkarya. Karena itu, pembangunan manusia tidak cukup hanya dengan menghadirkan pelayanan kesehatan. Kemandirian juga membutuhkan kemampuan masyarakat untuk berdiri di atas kaki sendiri secara ekonomi.
Di Barito Selatan, ikhtiar tersebut menemukan panggungnya melalui pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
12 Oktober 2025, di halaman Stadion Batuah, Buntok, Wabup Barsel, Khristianto Yudha secara resmi menutup sekaligus menyerahkan hadiah kepada para pemenang Adaro Spectapreneur 2025.
Rangkaian kegiatan yang diinisiasi melalui CSR PT Adaro Indonesia bersama mitra kerja, PT SIS dan PT BUMA, serta Kelompok AKU BARSEL tersebut telah berlangsung sejak akhir September 2025.
Namun, Spectapreneur bukan sekadar panggung untuk memamerkan produk. Di balik kemeriahan kegiatan, berlangsung proses panjang untuk mengubah cara pandang para pelaku usaha.
Sebanyak 190 pelaku UMKM lokal mendaftarkan diri dan 60 peserta terbaik disaring untuk mengikuti mentoring intensif, workshop strategi bisnis hingga penyempurnaan proposal usaha.
Mereka belajar bahwa berdagang tidak sekadar menjual barang lalu menerima uang. Tetapi, ada pembukuan yang harus ditata. Ada strategi pemasaran yang perlu dipahami. Ada inovasi yang mesti terus dilahirkan dan ada dunia digital yang membuka pasar jauh melampaui batas kampung maupun kabupaten.
Dari proses tersebut, lahir 16 inovator terbaik yang kemudian menyandang predikat Duta Inovasi Barsel 2025.
Pelaku usaha yang sebelumnya bertumpu pada pola perdagangan tradisional mulai diperkenalkan dengan pengelolaan bisnis yang lebih modern, pemasaran digital dan pembukuan yang lebih tertata.
Transformasi menjadi penting, sebab bantuan modal dapat habis, tetapi pengetahuan, keterampilan dan keberanian mengembangkan usaha dapat terus bertumbuh.
Di titik itulah pemberdayaan menemukan maknanya, bukan menciptakan ketergantungan, melainkan membuka jalan menuju kemandirian. ***
Menyatukan Langkah Pembangunan
RANGKAIAN ikhtiar sosial dan ekonomi tersebut bukanlah kerja sporadis yang berjalan sendiri-sendiri.
Keberlanjutan membutuhkan arah. Program sosial membutuhkan perencanaan. Sementara itu, pembangunan daerah membutuhkan sinergi agar pemerintah dan dunia usaha tidak berjalan pada jalur yang berbeda.
Komitmen strategis tersebut diperkuat melalui penandatanganan SK Anggaran CSR Barsel pada Februari 2026 yang menjadi bagian penting untuk memastikan program-program swasta dapat diselaraskan dengan arah pembangunan daerah dan kebutuhan masyarakat.
Pemerintah memahami kebutuhan masyarakat dan arah pembangunan wilayah. Sementara dunia usaha memiliki sumber daya, jaringan dan kemampuan untuk ikut mendorong berbagai program pemberdayaan. Di sinilah, sinergi menjadi kata kunci.
Ketika keduanya bertemu dalam satu tujuan, CSR tidak lagi berhenti pada seremoni penyerahan bantuan. Ia bergerak menjadi instrumen pembangunan, dari kesehatan, ekonomi hingga pendidikan.***
Menanam Masa Depan di Bangku Pendidikan
MEMBANGUN kemandirian bukan hanya tentang menyelesaikan persoalan masyarakat hari ini, namun ada generasi berikutnya yang harus dipersiapkan.
Anak-anak muda yang suatu hari akan mengambil alih estafet pembangunan Barsel, membutuhkan lebih dari sekadar ruang untuk bermimpi. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mewujudkannya.
September 2024 lalu, PT Adaro Energy Indonesia melalui Yayasan Adaro Bangun Negeri (YABN) mengucurkan dana sebesar Rp11,26 miliar untuk program beasiswa Indonesia Bright Future Leaders (IBFL) Batch 5 bagi 100 mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel).
Program tersebut turut menjangkau putra-putri berprestasi dari wilayah operasional perusahaan di Kalimantan Selatan dan Tengah (Kalselteng).
Melalui paket pendidikan tersebut, penerima mendapatkan pembiayaan kuliah penuh hingga sarjana, uang saku bulanan serta pembinaan karakter di asrama.
Sebuah pendekatan yang berusaha memastikan bahwa pendidikan tidak hanya melahirkan manusia berijazah, tetapi generasi yang memiliki karakter, kecerdasan dan integritas.
Sebab, kemandirian suatu daerah pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam yang tersimpan di dalam bumi. Masa depan sebuah daerah justru sangat ditentukan oleh kualitas manusia yang berdiri di atasnya.
Di ruang-ruang kuliah itulah benih masa depan tersebut ditanam. Kelak, mereka diharapkan kembali dengan pengetahuan, pengalaman dan gagasan baru untuk membangun daerahnya. ***
Merajut Satu Benang Keberlanjutan
WAKTU terus bergulir di Bumi Dahani Dahanai. Sungai Barito masih mengalir sebagaimana dahulu. Perahu-perahu masih membelah permukaannya, membawa masyarakat dari satu tepian menuju tepian lainnya.
Namun, di sepanjang perjalanan waktu tersebut, perubahan demi perubahan meninggalkan jejak.
Dari dua sepeda motor ambulans yang membantu menembus kawasan rawa Jenamas dan Dusun Hilir, tangan-tangan tim medis yang mengembalikan penglihatan warga, riuh kreativitas pelaku UMKM di halaman Stadion Batuah, hingga bangku-bangku kuliah yang kini diduduki para penerima beasiswa.
Sekilas, semuanya terlihat sebagai program yang berbeda; kesehatan, ekonomi dan pendidikan.
Namun, ketika seluruh jejak tersebut ditarik dalam satu garis panjang, terdapat satu benang merah yang mengikatnya, yaitu kemandirian.
Pembangunan yang berkelanjutan bukan tentang seberapa banyak bantuan yang telah diberikan. Ukuran sesungguhnya adalah seberapa jauh sebuah program mampu membuat masyarakat kembali berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Pelayanan kesehatan yang semakin dekat memberikan rasa aman bagi masyarakat yang hidup jauh dari pusat kota. Operasi katarak memungkinkan seorang kembali melihat dan menjalankan aktivitas tanpa selalu bergantung kepada keluarganya.
Pembinaan UMKM memberikan pengetahuan agar pelaku usaha mampu mengembangkan bisnisnya secara mandiri. Sementara beasiswa, membuka jalan agar anak-anak muda memiliki bekal ilmu untuk menentukan masa depannya sendiri.
Di sanalah sinergi antara Pemkab Barsel dan PT Adaro Indonesia menemukan arti yang lebih dalam.
Bukan semata tentang bantuan yang diserahkan, program yang diluncurkan atau angka yang tercatat dalam laporan tahunan. Melainkan tentang manusia. Tentang mata yang kembali mampu melihat. Tentang tangan yang kembali produktif. Tentang usaha kecil yang perlahan bertumbuh. Tentang anak muda yang berani menggantungkan cita-cita lebih tinggi.
Dan, tentang masyarakat yang sedikit demi sedikit memiliki kemampuan menentukan masa depannya sendiri.
Kabut mungkin akan kembali turun di permukaan Sungai Barito esok pagi. Ketinting kembali membelah air, membawa masyarakat menjalani kehidupan sebagaimana hari-hari sebelumnya.
Namun, jejak pembangunan yang ditanam dengan konsisten, tidak ikut hilang bersama kabut. Ia tinggal di tengah masyarakat. Tumbuh menjadi pengetahuan, kesehatan, kesempatan dan keberanian untuk mandiri.
Karena pada akhirnya, warisan pembangunan terbaik bukanlah sesuatu yang hanya dapat dilihat hari ini, tetapi sesuatu yang terus hidup setelah sebuah program selesai.
Di Bumi Dahani Dahanai, jejak itu sedang dirajut—menganyam asa, menyalakan kembali penglihatan, menumbuhkan usaha dan mewariskan kemandirian berkelanjutan bagi masyarakat Barsel.***

Akhmad Madani
Pewarta TABIRkota.com area Barito Selatan



