
BUNTOK (TABIRkota) – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Barito Selatan (Barsel), Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali memakan korban.
Setelah sebelumnya seorang bayi meninggal karena infeksi pneumonia yang diduga dipicu paparan asap karhutla, kini seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) di Buntok juga mengalami nasib serupa, diduga meninggal akibat sesak napas pada Kamis (15/10) kemarin.
Menurut Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barsel, Agus In’Yulius, korban ASN dengan inisial RY (40) tersebut diketahui merupakan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) setempat.
“Korban meninggal dunia diduga akibat sesak napas pada Kamis (15/10) sekitar pukul 15.00 WIB di IGD RSUD Jaraga Sasameh Buntok,” ujarnya di Buntok, ibu kota Barsel, Jumat (16/10).
Ia mengatakan, saat pulang kerja, korban mengalami sesak napas lalu pulang ke rumah, namun kondisinya semakin parah sehingga akhirnya dilarikan ke RSUD Jaraga Sasameh Buntok.
"Setelah dilakukan perawatan di RSUD, tidak lama kemudian korban meninggal dunia yang diduga memang ada hubungannya dengan kondisi atau kualitas udara di Barsel saat ini," katanya.
Ia menambahkan, korban merupakan relawan pemadam karhutla di Barsel, namun saat kejadian bukan jadwal yang bersangkutan untuk melaksanakan tugas.
"Korban tinggal di Jalan Bunda VI, Buntok dan dimakamkan di Kelurahan Pendang, Kecamatan Dusun Utara,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Barsel, Dadang Baskoro Nugroho mengatakan, korban datang ke IGD RSUD dengan keluhan sesak napas.
"Setelah dilakukan penanganan, diketahui salah satu faktor adalah gangguan di paru-paru dan jantung,” katanya.
Ia menambahkan, ketika sudah dilakukan penanganan selama sekitar dua sampai tiga jam, korban tidak tertolong dan meninggal di IGD.
“Terhitung sejak Agustus lalu, di Barsel sudah ada tujuh pasien yang meninggal akibat pneumonia yang diduga dipicu kabut asap karhutla,” tambahnya.
Tercatat, korban meninggal akibat pneumonia pada Agustus berjumlah tiga orang, September dua orang dan dua orang lagi di Oktober. (mad/ra)




