
Oleh : Muhammad Ferian Sadikin
KUYANG kerap dianggap sebagai cerita pinggiran—folklore gelap yang tidak relevan di tengah logika modern. Padahal, disitulah letak kekuatannya.
Mitos tidak lahir untuk dipercaya secara harfiah, melainkan untuk menyindir manusia melalui bahasa simbol yang keras dan jujur.
Kuyang bukan sekadar manusia jadi-jadian yang menghantui warga, namun mereka adalah bentuk kegagalan manusia mengelola nafsu dan hasratnya sendiri.
Beberapa versi cerita rakyat, kuyang berasal dari manusia normal—biasanya perempuan—yang mengejar ilmu kasih sayang, kecantikan, kekuasaan atau keabadian dengan cara instan.
Menurut kepercayaan masyarakat di Kalimantan, khususnya di beberapa wilayah di Hulu Sungai, Kalimantan Selatan (Kalsel), kuyang yang berwujud manusia biasa disebut “saya”, jalannya menyilang, rambutnya terurai ke depan dan sering berjalan (tidak terbang).
Sedangkan kuyang yang biasa dikenal orang yang terbang hanya dengan kepala dan isi perut itu disebut “pananggalanan” atau “cabut bukang”.
Pananggalanan merepresentasikan ambisi tanpa kendali tak pernah berakhir pada kebaikan dan kemuliaan, bahkan menjadi simbol keterasingan.
Di titik inilah mitos yang beredar di masyarakat bekerja sebagai kontrol sosial.
Penggambaran kepala yang terpisah dari tubuh bukan sekadar upaya menakut-nakuti. Ia adalah metafora yang sangat politis.
Kepala melambangkan hitungan, kalkulasi dan kehendak, sedangkan tubuh merepresentasikan rasa, empati dan dampak nyata. Jika keduanya terpisah, manusia berubah menjadi makhluk yang berpikir tanpa nurani, cerdas tapi berbahaya.
Penanggalanan yang tampil normal dan memesona adalah potret kemunafikan telanjang, ia hidup di dua dunia.
Bukan sekadar kisah mistik, pananggalanan merupakan alegori tentang manusia yang lihai memainkan dua citra, seperti kesantunan dan moralitas hanya menjadi topeng, bukan nilai.
Pananggalanan kerap dikaitkan sebagai ancaman terhadap ibu dan bayi—simbol manusia yang memangsa kehidupan paling rapuh, demi menuntaskan hasrat dan kepentingan diri sendiri.
Dalam konteks ini, pananggalanan tidak jauh dari praktik sosial yang merusak generasi mendatang atas nama keuntungan saat ini.
Saat dampaknya mulai bekerja, kita melihat sisi lain, seperti lingkungan rusak, akses kesehatan timpang, pendidikan terpinggirkan dan kelompok rentan menanggung beban paling berat.
Di sinilah mitos berubah jadi kritik: yang terlihat baik tidak selalu bekerja dengan baik.
Pananggalanan dalam cerita rakyat selalu memangsa yang paling lemah—dan kebijakan yang buruk pun bekerja dengan cara yang sama.
Di siang hari, pananggalanan hidup tampak rapi, teratur dan meyakinkan. Begitu pula kebijakan efisiensi anggaran, disusun dalam dokumen resmi, dipresentasikan dengan bahasa teknokratis dan justifikasi demi stabilitas fiskal.
Sedangkan malam hari—ketika anggaran dipersempit dan program sosial dipangkas—wajah lain muncul. Yang berhemat bukan pengatur kebijakan, melainkan warga rentan.
Dalam konteks anggaran daerah, pananggalanan menjelma ketika pelayanan dasar menjadi sasaran pemotongan dan bantuan sosial dipersempit, sesungguhnya yang dihisap adalah masa depan daerah itu sendiri.
Ironisnya, efisiensi tak pernah menyentuh ruang-ruang kekuasaan yang dinilai paling boros, ia lebih sering turun ke sektor yang tidak punya politik kuat.
Dari sinilah pananggalanan bekerja dengan sempurna, kebijakan tampak sehat dari luar, namun menggerogoti dalamnya.
Melihat pananggalanan saat ini, berarti menanyakan ulang makna efisiensi, mengingatkan bahwa anggaran bukan hanya angka, melainkan keputusan moral tentang siapa yang dilindungi atau dikorbankan.
Mungkin yang perlu kita waspadai bukan mitos lama, tetapi kebijakan modern uang terlalu percaya hitungan, mereka lupa di setiap baris anggaran ada tubuh yang menanggung akibatnya. (fer)




