
Oleh: M Ferian Sadikin
HARI kedelapan belas Ramadhan memiliki makna dan sejarah tersendiri bagi masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel).
Bertepatan dengan hari kedelapan belas Ramadhan, sejarah pernah mencatat aksi heroik para pejuang Bumi Murakata (sebutan lain untuk HST, red). Hari dimana seorang kesuma bangsa gugur ke pelukan Ibu Pertiwi.
Pertengahan Mei 1947, Ramadhan memasuki hari kedelapan belas. Jarum jam menunjukkan pukul 01.00 tengah malam ketika pasukan pejuang di bawah pimpinan H Aberani Sulaiman bergerak dari markas di Birayang, ibu kota Kecamatan Batang Alai Selatan (BAS) sekarang ini.
Bergerak senyap namun cepat, para pejuang mengendap dikesunyian malam menuju Hambawang Pulasan, sebuah daerah yang masuk wilayah Batang Alai Utara (BAU) saat ini.
Hambawang Pulasan merupakan akses penghubung antara Kota Barabai, ibu kota HST dengan Batumandi yang saat ini secara administratif masuk wilayah Balangan. Jalur tersebut merupakan akses yang vital bagi lalu lintas darat tentara Belanda.
Dan di hari kedelapan belas Ramadhan, akses tersebut akan diputus oleh para pejuang dengan melakukan pencegatan terhadap serdadu Kompeni.
“Kala itu, bersama H Abrani Sulaiman turut serta 12 orang pejuang,” ujar Pembina Komunitas Pelestari Budaya dan Sejarah (Kumbar) HST, Masruswian.
Tiba di Hambawang Pulasan, para pejuang segera mengatur strategi dan persembunyian.
Penantian cukup panjang oleh para pejuang. Sedari dini hari hingga menjelang siang di persembunyian, akhirnya membuahkan hasil.
Tepat pukul 10.00 Wita, armada truk pasukan Belanda yang membawa persenjataan modern, melintas di Hambawang Pulasan. Kiranya, saat nahas mereka kini telah tiba.

Tanpa membuang waktu, dengan semangat jihad di bulan suci Ramadhan, para pejuang meneriakkan takbir seiring laras senapan yang menyalak, memuntahkan timah panas. Pencegatan itu dimulai.
“Pihak musuh tidak menduga dengan serangan tersebut hingga terjadi pertempuran hebat yang menewaskan 48 serdadu Belanda,” Masruswian bercerita.
Melihat musuh banyak bermandi darah, salah seorang pejuang kala itu, Made Kawis merangsek maju. Ia bermaksud mengambil persenjataan musuh yang telah kocar kacir.
Namun tiada diduga, saat itu juga datang bala bantuan serdadu Belanda yang muncul tiba-tiba.
Malang tak dapat ditolak, hari kedelapan belas Ramadhan, kiranya menjadi akhir perjuangan Made Kawis. Ia tewas diberondong peluru pasukan Belanda.
Melihat Made Kawis tersungkur, H Aberani Sulaiman bergerak cepat. Tubuh sang pejuang yang telah lunglai itu, dibawa H Aberani Sulaiman ke tempat persembunyian seraya memuntahkan peluru dari senjata rampasan.
Jumlah personel yang tak seimbang, membuat pasukan H Aberani Sulaiman terpencar dan terpaksa mundur dari medan perang untuk berkumpul kembali di gua Kudahaya yang dijadikan tempat persembunyian.
Meski begitu, sejarah kemudian mencatat, peristiwa berdarah di Hambawang Pulasan itulah yang kemudian menjadi trigger dan penyulut bagi pertempuran-pertempuran lainnya di HST.
Refleksi Perjuangan
DI ERA disrupsi teknologi saat ini, harusnya informasi tentang sejarah atau kisah heroik pejuang lokal mudah diakses.
Kenyataannya, tak banyak generasi muda tahu sejarah atau mengenal siapa saja pejuang asli Banua yang telah merebut kemeerdekaan dari penjajah.
Orang tua zaman sekarang juga jarang mendongengkan atau menceritakan tentang perjuangan pahlawan, terutama lokal.
Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) dan Kebudayaan Dinas Pendidikan HST, Abdul Hadi mengatakan, kisaj sejarah harus dituturkan kepada generasi muda.
“Baik dari mulut ke mulut atau berupa tulisan agar mengenalkan kepada generasi muda, bahwa di Banua juga ada perjuangan,” katanya.
Anak muda sekarang, lebih mengenal sejarah perjuangan secara umum di Indonesia, namun banyak kisah heroik pejuang yang terlupakan.
Semangat perjuangan dan jiwa nasionalisme pejuang kemerdekaan di Banua harus diwariskan hingga anak cucu.
Camat Batang Alai Utara, Budi Haryanto menambahkan, jejak perjuangan para pendahulu harus direfleksikan dalam bentuk penghormatan dan renungan.
“Salah satunya melalui napak tilas perjuangan, seperti yang digelar oleh Dinas Pendidikan pada Selasa (19/8) lalu,” tambahnya.
Kalau dulu pahlawan berjuang dengan darah dan air mata, sekarang generasi penerus tinggal melanjutkan amanah kemerdekaan .
Elemen bangsa harus mengisi kemerdekaan dan mengenang sejarah dengan menjalankan amanah atau tugas dengan semaksimal mungkin.
Begitu juga dengan generasi muda, mereka kelak melanjutkan perjuangan sejarah dari pemimpin sekarang. Dan jangan sesekali melupakan sejarah terdahulu.
Hingga saat ini, tetesan darah para pejuang pada pertempuran Hambawang Pulasan tetap abadi dalam sebentuk monumen yang didirikan di Desa Haur Gading, Batang Alai Utara.
Monumen yang menjadi pengingat, bahwa di tempat itu, delapan belas Ramadhan 1947 lalu, 12 pejuang HST pernah membuat Belanda kehilangan 48 serdadu mereka.
Bahwa delapan belas Ramadhan, dulu ada peristiwa bersejarah yang entah kini apakah masih bermakna bagi generasi muda. (fer)