
DI TENGAH gempuran teknologi digital, pelestarian budaya lokal kini menemukan jalan baru melalui media interaktif di sekolah.
Merespon hal itu, tiga peneliti, Kepala SDN 35 Pontianak Selatan, Herwulan Irine Purnama, Rektor Inisnu Temanggung, Hamidulloh Ibda dan guru SD Muhammadiyah Condongcatur, Yogyakarta, Rois Saifuddin Zuhri, mengembangkan sebuah game bernama GARISKOYAK atau Game Edukatif Tari Bermuatan Seni Koncong Dayak.
Pengembangan game itu mendapat bantuan dari Dana Indonesiana Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, melalui penciptaan karya kreatif inovatif bertajuk Gariskoyak: Inovasi Game Edukatif Tari Bermuatan Seni Koncong Dayak sebagai Media Pelestarian Budaya Lokal.
Ketua Tim Peneliti, Herwulan secara resmi memperkenalkan pengembangan edugame bernama “Gariskoyak” sebagai permainan edukasi yang dirancang khusus untuk mengangkat dan melestarikan seni Tari Koncong Dayak Salako agar tetap relevan di mata generasi muda.
Kegiatan diawali dengan pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Pemetaan Kebutuhan Budaya, Analisis Masalah, dan Content Mapping untuk Pengembangan Edugame Gariskoyak” pada Sabtu (4/4) lalu di Singkawang.
Menurut Herwulan, proyek yang didanai hibah Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2026 itu, bukan sekadar memindahkan tarian ke dalam layar, melainkan sebuah upaya penggalian nilai-nilai filosofis yang mendalam.
“Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata,” ujarnya dengan semboyan khas Dayak yang menekankan keadilan, cerminan surga dan nafas kehidupan dari Tuhan.
“Tujuan kami adalah menggali nilai-nilai filosofis, historis, serta elemen penting dalam Tari Koncong Dayak Salako yang harus dipertahankan dalam proses digitalisasi ke dalam game edukasi,” katanya.
Ia menegaskan pentingnya menentukan “batasan budaya”, hal-hal yang tidak boleh disederhanakan dalam game agar keaslian dan nilai kearifan lokal Dayak Salako tetap terjaga meskipun berada dalam format teknologi modern.
Pengembangan edugame Gariskoyak dilakukan secara sistematis melalui tujuh langkah strategis, yang dimulai dari identifikasi tantangan di sekolah dasar hingga pemetaan konten (content mapping).
Tim peneliti memfokuskan pengembangan pada empat aspek utama dalam game. Pertama, gameplay, yaitu mekanisme permainan yang menarik bagi anak-anak. Kedua, narasi, yaitu Cerita yang memuat nilai-nilai luhur Dayak Salako. Ketiga, karakter, yaitu representasi identitas budaya yang akurat. Keempat, misi, yaitu tugas-tugas dalam game yang berbasis pada kearifan lokal.
Proyek tersebut tidak hanya berhenti pada tahap pengembangan laboratorium. Herwulan mengungkapkan, pihaknya telah menentukan dua sekolah sasaran sebagai lokasi uji coba penggunaan edugame Gariskoyak.
Hal tersebut bertujuan untuk melihat efektivitas game tersebut sebagai media pembelajaran di lingkungan sekolah dasar secara nyata.
Melalui kolaborasi antara seniman seperti Ketua Sanggar Mancar, tokoh adat Kepalo Binuo Garantunk Sakawokng dan para pakar pendidikan, diharapkan Gariskoyak menjadi prototipe media pelestarian budaya yang kontekstual dan edukatif.
Sementara itu, Hamidulloh Ibda mengatakan, alur pengembangan merujuk metode Penelitian dan Pengembangan (R&D) dengan model ADDIE melalui lima tahap, yaitu Analysis, Design, Development, Implementation dan Evaluation
“Metode yang digunakan adalah model ADDIE atau Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation yang memungkinkan proses sistematis, kolaboratif, dan terukur, melibatkan akademisi, guru, praktisi budaya, dan komunitas lokal,” katanya.
Game tersebut, selain untuk SD kelas tinggi (4, 5, 6) juga bisa dipakai untuk jenjang SMP kelas 1 atau 7.
Keluaran yang ditargetkan meliputi prototipe edugame, panduan penggunaan, laporan evaluasi, sertifikat hak cipta, publikasi ilmiah internasional, buku edukasi berbasis budaya lokal, dokumentasi digital, dan policy brief.
Secara rinci, Rois Saifuddin Zuhri menjelaskan, alur teknis Gariskoyak yang bisa dimainkan oleh anak-anak SD kelas tinggi.
Merespon masukan, Rois memastikan bahwa animasi perlu ditambahkan seolah membacakan teks, dan materi yang disajikan akan disesuaikan dengan materi Kak Indung. (rls/ra)




