Bagarakan Sahur dan Arah Kebudayaan HST: Tradisi, Kreativitas dan Pembangunan Daerah (Bagian Pertama)

“Pada Lomba Bagarakan Sahur, tradisi tidak diposisikan sebagai sesuatu yang hanya dipertontonkan secara simbolik, tetapi justru dijadikan sebagai medium kreativitas generasi muda”

Penampilan salah satu peserta Lomba Baragarakan Sahur di HST (foto: TABIRkota/ferian sadikin)

Oleh: Novyandi Saputra

LOMBA Bagarakan Sahur tahun 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Semarak Ramadhan ke-II di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel), bukan sekadar kegiatan hiburan dalam suasana bulan Ramadhan. Di dalamnya terdapat sebuah praktik kebudayaan yang menarik untuk dibaca lebih jauh: bagaimana tradisi rakyat diolah menjadi ruang kreativitas, ruang partisipasi publik, sekaligus ruang penguatan identitas daerah.

Kegiatan yang diinisiasi Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disporabudparekraf) HST tersebut, menghadirkan 18 kelompok peserta dari berbagai wilayah di kabupaten. Mereka beradu kreativitas dalam mengolah musik bertema “bagarakan sahur”, sebuah tradisi lama masyarakat Banjar yang bertujuan membangunkan warga untuk makan sahur selama bulan Ramadan.

Dari perspektif kebudayaan, Lomba Bagarakan Sahur memiliki relevansi kuat dengan agenda pemajuan kebudayaan, sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. Kegiatan itu menunjukkan bagaimana tradisi lokal tidak hanya dijaga sebagai warisan masa lalu, tetapi juga dihidupkan kembali melalui ruang-ruang publik yang melibatkan partisipasi masyarakat.

Tradisi bagarakan sahur yang selama ini hadir sebagai praktik sosial dalam kehidupan masyarakat Banjar, memperoleh bentuk baru sebagai ekspresi seni pertunjukan yang tetap berpijak pada nilai-nilai kebersamaan, religiusitas, dan gotong royong.

Dalam kerangka pemajuan kebudayaan, kegiatan itu sekaligus mencerminkan proses pelindungan dan pengembangan budaya. Tradisi bagarakan sahur tidak dipertahankan secara statis, tetapi ditafsirkan kembali oleh generasi muda melalui kreativitas musikal, pengolahan bunyi dari berbagai medium, serta penguatan aspek performatif seperti koreografi dan kostum.

Proses tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan hidup melalui dialog antara tradisi dan kreativitas, sehingga nilai-nilai budaya tetap relevan dengan perkembangan zaman.

Lebih jauh, kegiatan itu juga memperlihatkan bagaimana kebudayaan menjadi motor penggerak ekosistem sosial dan ekonomi kreatif di daerah. Festival yang melibatkan komunitas, seniman, pemerintah daerah dan masyarakat luas membentuk ruang interaksi budaya yang aktif di ruang publik.

Dari sini terlihat bahwa Pemerintah Kabupaten (Pemkab) HST melalui Disporabudparekraf setempat, tidak hanya menjaga tradisinya, tetapi juga secara progresif mengaktivasi kebudayaan sebagai bagian penting dari pembangunan daerah dan penguatan identitas kultural masyarakat.

* * *

Tradisi Sebagai Fondasi Pembangunan Kebudayaan

SALAH satu tantangan besar dalam pembangunan kebudayaan di daerah adalah bagaimana menjaga keberlanjutan tradisi di tengah perubahan zaman. Banyak tradisi yang perlahan kehilangan ruang karena perubahan gaya hidup masyarakat.

Namun melalui kegiatan seperti Lomba Bagarakan Sahur, kita melihat pendekatan yang berbeda. Tradisi tidak diposisikan sebagai sesuatu yang hanya dipertontonkan secara simbolik, tetapi justru dijadikan sebagai medium kreativitas generasi muda.

Pada lomba tersebut, para peserta tidak sekadar meniru praktik bagarakan sahur yang selama ini dikenal. Mereka mencoba mengolahnya kembali dengan pendekatan yang lebih kreatif, terutama dalam hal musikalitas, visual pertunjukan, hingga cara berinteraksi dengan penonton.

Pendekatan seperti itu penting karena memperlihatkan bahwa tradisi memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan konteks zaman. Ia tetap menjaga nilai dasarnya, tetapi membuka ruang bagi eksplorasi baru. Hal tersebut sejalan dengan semangat pemajuan kebudayaan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam proses pelestarian dan pengembangan budaya.

* * *

Kreativitas Bunyi Sebagai Ekspresi Budaya Rakyat

DARI sisi musikal, salah satu hal yang paling menarik dalam lomba itu adalah kemampuan peserta dalam mengolah medium bunyi dari instrumen non-musik. Banyak kelompok memanfaatkan benda-benda sehari-hari seperti kaleng, ember plastik, galon air, hingga pipa paralon sebagai sumber bunyi utama.

Benda-benda tersebut dimainkan dengan pendekatan perkusif, membangun pola ritmis yang kuat dan energik. Namun yang menarik untuk dicermati lebih jauh bukan hanya keberanian menggunakan medium bunyi alternatif, melainkan bagaimana peserta mulai memperlakukan bunyi-bunyi tersebut sebagai unsur komposisi musikal.

Beberapa kelompok terlihat mampu membangun struktur ritme berlapis: ada bunyi yang berfungsi sebagai penanda tempo dasar, ada yang berperan sebagai aksen dan ada pula yang membentuk variasi ritmis yang memperkaya dinamika pertunjukan.

Jika dibaca secara lebih kritis, fenomena tersebut sebenarnya memperlihatkan bagaimana pengetahuan musikal masyarakat di HST terbentuk dari pengalaman budaya sehari-hari. Tradisi-tradisi musikal masyarakat Banjar; baik yang lahir dari kesenian rakyat, permainan ritmis, maupun praktik bunyi dalam kehidupan sosial, secara tidak langsung membentuk sensitivitas terhadap pola ritme, aksentuasi bunyi, dan energi musikal kolektif.

Pada lomba tersebut, terlihat bahwa banyak kelompok secara intuitif memahami bagaimana ritme bekerja sebagai penggerak suasana. Walaupun tidak semuanya sampai pada tingkat komposisi yang matang, tetapi kemampuan untuk mengorganisasi bunyi menjadi pola yang komunikatif menunjukkan adanya modal musikal kultural yang hidup di tengah masyarakat.

Namun demikian, dari sisi artistik masih terdapat ruang pengembangan yang cukup besar. Sebagian kelompok masih cenderung bertumpu pada intensitas bunyi yang keras dan repetisi ritmis yang panjang, tanpa pengolahan dinamika yang lebih variatif.

Padahal, eksplorasi terhadap tempo, dinamika, tekstur bunyi, hingga dialog antarinstrumen dapat membuka kemungkinan musikal yang jauh lebih kaya. Di titik inilah, lomba seperti itu memiliki peran penting sebagai ruang belajar kolektif bagi masyarakat untuk memperdalam kesadaran musikal mereka.

Ke depan, harapannya kegiatan seperti Lomba Bagarakan Sahur tidak hanya menjadi ajang kompetisi tahunan, tetapi juga berkembang sebagai laboratorium kreativitas bunyi masyarakat HST.

Dengan pendampingan yang tepat dari para seniman, akademisi, dan komunitas musik, potensi ritmis yang sudah dimiliki masyarakat ini dapat diarahkan menjadi bentuk ekspresi musikal yang lebih matang. Jika proses itu terus berkembang, bukan tidak mungkin “bagarakan sahur” akan tumbuh menjadi identitas musikal khas daerah, yang tidak hanya hidup sebagai tradisi Ramadan, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan seni pertunjukan rakyat HST di masa depan.

* * *

Pertunjukan Sebagai Bahasa Komunikasi Publik

SELAIN aspek musikal, lomba tersebut juga menuntut peserta untuk menghadirkan penampilan yang performatif. Karena ia berada dalam format kompetisi pertunjukan, maka unsur visual menjadi bagian penting dalam penilaian.

Beberapa kelompok terlihat cukup berhasil mengembangkan elemen koreografi sederhana, kostum yang khas serta gimik pertunjukan yang mampu menarik perhatian penonton.

Upaya tersebut penting karena bagarakan sahur dalam konteks festival tidak lagi sekadar aktivitas membangunkan warga, tetapi telah berubah menjadi peristiwa pertunjukan publik yang melibatkan pengalaman visual dan dramaturgi.

Namun jika dicermati lebih jauh, tantangan utama yang terlihat adalah bagaimana mengintegrasikan seluruh unsur pertunjukan tersebut ke dalam satu konsep yang utuh.

Dalam seni pertunjukan rakyat yang kuat, koreografi, kostum, pola dramatik, dan musik seharusnya tidak hadir sebagai elemen yang berdiri sendiri-sendiri. Semuanya perlu disusun sebagai satu narasi performatif yang berangkat dari ide dasar bagarakan sahur: membangunkan masyarakat, menghadirkan suasana malam Ramadan dan membangun energi kolektif kampung. Tanpa integrasi konseptual, koreografi hanya akan menjadi sekadar gerakan tambahan, kostum hanya menjadi dekorasi visual, dan gimik pertunjukan kehilangan relevansinya dengan tema.

Pada beberapa penampilan, terlihat bahwa unsur dramatik masih digunakan secara sporadis, misalnya hanya sebagai pembuka atau selingan humor tanpa terhubung secara kuat dengan struktur musikal maupun alur pertunjukan.

Padahal, jika dikelola secara lebih sadar, elemen dramatik dapat memperkuat alur dramaturgi pertunjukan, misalnya melalui adegan membangunkan warga, dinamika perjalanan kelompok menyusuri kampung, hingga puncak energi ketika semua instrumen berbunyi bersama.

Dengan pendekatan seperti itu, pertunjukan tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki logika artistik yang jelas.

Karena itu, ke depan penting bagi para peserta untuk mulai memikirkan konsep pertunjukan secara lebih komprehensif. Koreografi dapat dirancang mengikuti aksen ritmis musik, kostum dapat merepresentasikan identitas kelompok atau karakter kampung, sementara elemen dramatik dapat memperkuat narasi bagarakan sahur sebagai tradisi sosial masyarakat.

Ketika semua unsur tersebut terintegrasi, maka yang lahir bukan sekadar penampilan lomba, melainkan sebuah format seni pertunjukan rakyat yang utuh, hidup dan memiliki karakter khas Hulu Sungai Tengah. (bersambung ke bagian dua)

Penulis: Novyandi Saputra

Akademisi ULM Banjarmasin

Juri Festival Bagarakan Sahur HST

Pewarta: TABIRkota

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Buka Puasa Bersama Insan Pers Barut, Dandim 1013 Muara Teweh Ajak Bijak Bermedia Sosial

Rab Mar 18 , 2026
Di era informasi yang serba cepat sekarang ini, kita dituntut untuk bijak dalam menerima dan menyebarkan berita agar tidak menimbulkan kesalahpahaman"

You May Like

TABIRklip