
BANJARBARU (TABIRkota) – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Selatan (Kalsel) memperkuat kesiapsiagaan sistem kesehatan di seluruh daerah sebagai langkah antisipatif dan waspada terhadap potensi penyebaran virus Nipah.
Menurut Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Panyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel, Anhar Ihwan, langkah tersebut sebagai tindak lanjut Surat Edaran Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI Nomor HK.02.02/C/445/2026 tentang kesiapsiagaan terhadap penyakit zoonosis emerging, termasuk virus Nipah yang dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi.
“Penguatan kewaspadaan difokuskan pada deteksi dini dan respons cepat di fasilitas pelayanan kesehatan,” ujarnya di Banjarbaru, ibu kota Kalsel, Jumat (6/2).
Meskipun hingga saat ini belum ada laporan kasus virus Nipah, namun rumah sakit dan puskesmas tetap diminta meningkatkan kewaspadaan sejak dini sebagai bentuk perlindungan bagi masyarakat.
Ia mengatakan, seluruh fasilitas kesehatan di Kalsel telah diingatkan untuk memperketat surveilans epidemiologi, khususnya pada pasien dengan gejala demam akut yang disertai gangguan pernapasan atau gangguan saraf, terutama jika memiliki riwayat paparan risiko.
“Pendekatan tersebut penting, mengingat virus Nipah dapat berkembang cepat dan menyebabkan komplikasi berat apabila terlambat ditangani,” katanya.
Dinkes Kalsel juga memperkuat penerapan standar pencegahan dan pengendalian infeksi (PPI) di fasilitas kesehatan, termasuk kewajiban penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) bagi tenaga medis.
Langkah tersebut, tambahnya, dilakukan untuk meminimalkan risiko penularan di lingkungan pelayanan kesehatan.
“Kita mengajak masyarakat berperan aktif dalam menjaga kewaspadaan dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS), serta tidak ragu memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala yang mencurigakan,” tambahnya.
Diakui, meskipun belum ada kasus virus Nipah di Kalsel, namun bukan berarti lengah, karena kesiapsiagaan merupakan cara terbaik agar tetap aman.
Virus Nipah sendiri merupakan penyakit zoonotik yang disebabkan oleh virus dari genus Henipavirus dengan reservoir alami kelelawar buah (Pteropus).
Penularan dapat terjadi melalui hewan perantara, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi serta kontak erat antarmanusia.
Secara klinis, infeksi virus Nipah dapat menyebabkan gangguan pernapasan akut hingga gangguan saraf berat seperti ensefalitis, dengan tingkat kematian yang dilaporkan mencapai 40 hingga 75 persen.
Meski hingga saat ini Indonesia belum pernah mencatat kasus pada manusia, peningkatan kewaspadaan terus dilakukan mengingat potensi risiko di kawasan Asia Tenggara.
Dengan langkah antisipatif tersebut, diharapkan mampu menjaga kesiapan sistem kesehatan sekaligus memberikan rasa aman bagi masyarakat. (ra)




