
TANJUNG (TABIRkota) – Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Sekretariat Daerah (Setda) Tabalong, Kalimantan Selatan (Kalsel), H Abubakar Sidiq mengajak Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) setempat untuk turut mensukseskan Program 1.000 Sarjana.
Ajakan tersebut disampaikan H Abubakar Sidiq saat mewakili Bupati Tabalong, H Muhammad Noor Rifani menghadiri peringatan Milad ke-79 HMI di Balai Dandung Suchrowardi, Kompleks Pendopo Bersinar, Kamis (5/2).
Peringatan Milad ke-79 HMI kali ini, dirangkai dengan kegiatan Diskusi Panel dengan tema Relevansi Program 1.000 Sarjana dengan Kebutuhan Pembangunan Daerah.
Menurut H Abubakar Sidiq, selama hampir satu abad, HMI telah menunjukkan eksistensinya sebagai organisasi kader yang konsisten melahirkan insan intelektual, pemimpin dan agen perubahan.
“Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabalong mengapresiasi kegiatan diskusi panel dengan mengangkat tema yang sangat sejalan dengan visi pembangunan Tabalong Smart, yaitu program 1.000 sarjana,” ujarnya.
Program 1.000 Sarjana penekanan utamanya adalah pembangunan sumber daya manusia yang unggul, berkarakter dan berdaya saing.
Ia mengatakan, melalui Diskusi Panel yang dilaksanakan HMI, diharapkan dapat dirumuskan gagasan dan rekomendasi yang konstruktif agar Program 1.000 sarjana benar-benar relevan dengan kebutuhan di segala sektor.
“Pemkab Tabalong sangat terbuka terhadap kolaborasi dan sinergi dengan HMI dan KAHMI sebagai mitra strategis pembangunan daerah, dalam rangka bersama-sama mewujudkan Tabalong Smart,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Presidium Majelis Daerah KAHMI Tabalong, Kadarisman mengatakan, Program 1.000 Sarjana merupakan jawaban kritis yang selaras dengan tujuan HMI.
“Namun desain hulu program beasiswa tersebut, harus bertaut pada kebijakan hilirisasi, karena jika desain hilirisasi kebijakannya tidak disiapkan dengan baik, seribu sarjana hanya akan melahirkan pengangguran intelektual baru,” katanya.
Diharapkan, Program 1.000 sarjana tidak berhenti pada persoalan organik perkuliahan, sehingga mahasiswa lupa mengasah soft skill dan kosong dari kecerdasan emosional serta sosial yang menjadi modal pentingnya dalam relasi kehidupan. (lhm/ra)




