Akademisi dan Dunia Perguruan Tinggi yang Tenggelam Dalam Tumpukan Teori

“Ketika akademisi memilih aman, netral, dan nyaman, mereka sesungguhnya sedang mengambil posisi politik, membiarkan ketidakadilan berlangsung”

(ilustrasi)

Oleh: Dr. Muhammad Uhaib As’ad, M.Si

DUNIA perguruan tinggi hari ini seolah menjadi menara gading yang terlalu nyaman dengan gemerlap konsep dan teori, tetapi gagap ketika berhadapan dengan realitas sosial yang berdarah-darah di bawahnya. Akademisi sibuk merawat bangunan abstraksi, sementara masyarakat menunggu solusi konkret yang tak kunjung datang.

Ruang-ruang kampus dipenuhi diskursus megah, seminar bertema global, dan jurnal bereputasi tinggi, namun sering kehilangan denyut kehidupan rakyat kecil. Teori-teori besar diperdebatkan dengan penuh gairah, tetapi jarang diuji pada lumpur kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan yang nyata.

Inilah paradoks perguruan tinggi kita, semakin tinggi indeks sitasi, semakin jauh jarak empatinya dengan problem empiris. Akademisi seolah berbicara pada frekuensi yang hanya dipahami sesamanya, bukan pada kanal penderitaan publik yang membutuhkan keberpihakan.

Kampus kemudian terjebak pada ritual akademik yang repetitif. Publikasi menjadi tujuan, bukan alat. Gelar menjadi prestise, bukan amanah. Keilmuan kehilangan orientasi etiknya sebagai instrumen pembebasan.

Dalam banyak kasus, riset dikerjakan bukan untuk menjawab persoalan sosial, melainkan demi memenuhi kewajiban administratif: angka kredit, akreditasi, dan ranking. Masyarakat berubah menjadi objek statistik, bukan subjek perubahan.

Ketika kebijakan publik gagal, jarang terdengar suara akademisi yang lantang dan konsisten. Jika pun ada, sering kali hadir terlambat atau tereduksi menjadi catatan kaki dalam laporan panjang yang tak pernah dibaca pembuat kebijakan.

Akademisi lupa bahwa ilmu pengetahuan lahir dari kegelisahan sosial. Ia bukan sekadar hasil kontemplasi di balik meja, melainkan respon kritis atas ketidakadilan yang menganga. Tanpa kegelisahan itu, ilmu berubah menjadi ornamen intelektual yang steril.

Perguruan tinggi seharusnya menjadi pusat produksi makna dan solusi, bukan pabrik teori yang terputus dari realitas. Ketika kampus kehilangan sensitivitas sosial, ia kehilangan legitimasi moralnya di hadapan publik.

Mahasiswa pun ikut terseret dalam arus ini. Mereka dijejali teori tanpa diajak menyelam ke lapangan. Akibatnya, lahir generasi sarjana yang fasih berbicara konsep, tetapi gagap membaca konteks.

Kesenjangan antara teori dan praktik semakin menganga. Bahasa akademik menjadi asing bagi masyarakat, sementara bahasa penderitaan rakyat tak pernah diterjemahkan ke dalam agenda ilmiah yang serius.

Di sinilah problem “channel frekuensi” itu nyata. Akademisi berbicara di kanal yang berbeda dengan problem empiris. Pesan tak tersampaikan, resonansi tak tercipta, dan perubahan pun mandek.

Padahal, sejarah menunjukkan bahwa perubahan besar selalu lahir dari keberanian intelektual yang membumi. Dari kampus yang berpihak, dari akademisi yang turun tangan, dan dari ilmu yang bersedia kotor oleh realitas.

Ketika akademisi memilih aman, netral, dan nyaman, mereka sesungguhnya sedang mengambil posisi politik, membiarkan ketidakadilan berlangsung. Netralitas dalam situasi timpang adalah ilusi yang mahal bagi rakyat kecil.

Sudah saatnya perguruan tinggi melakukan refleksi radikal. Apakah ilmu yang diproduksi masih relevan? Apakah riset yang dilakukan benar-benar menjawab kebutuhan publik? Ataukah sekadar mempercantik portofolio institusi?

Kampus harus berani keluar dari zona nyaman. Kurikulum perlu dipertautkan dengan problem lokal. Riset harus diarahkan pada isu strategis masyarakat. Pengabdian tidak boleh menjadi formalitas seremonial.

Akademisi dituntut menjadi penerjemah realitas: mengolah jeritan sosial menjadi rekomendasi kebijakan yang tajam dan aplikatif. Di sinilah fungsi intelektual organik menemukan maknanya.

Tanpa keberanian itu, perguruan tinggi hanya akan menjadi museum teori. Indah dipandang, kaya referensi, tetapi sunyi dari dampak nyata.

Masyarakat tidak membutuhkan akademisi yang hanya pandai mengutip, tetapi yang berani bersuara. Bukan yang sekadar menganalisis, tetapi yang terlibat dan berpihak.

Relevansi ilmu diukur bukan dari tebalnya jurnal, melainkan dari sejauh mana ia mampu mengurangi penderitaan manusia. Di titik inilah perguruan tinggi diuji, bukan di ruang sidang promosi doktor.

Jika akademisi dan dunia perguruan tinggi terus asyik tenggelam dalam tumpukan teori, maka jangan heran bila kampus perlahan ditinggalkan oleh realitas. Ilmu yang kehilangan empiri pada akhirnya akan kehilangan makna, dan akademisi akan tercatat dalam sejarah sebagai penonton, bukan pelaku perubahan.***

Penulis: Dr. Muhammad Uhaib As’ad, M.Si
Akademisi, Direktur Kajian Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik Kalimantan Selatan, President International Institute of Influencers Indonesia. Tinggal di Banjarmasin

TABIRkota

Dari Banua Untuk Dunia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Konsolnas Pendidikan 2026, Pemkab HST Terima Revitalisasi Sekolah Terbanyak di Kalsel

Sel Feb 10 , 2026
"55 satuan pendidikan di HST telah rampung direvitalisasi 2025 lalu dan siap menunjang proses pembelajaran"

You May Like

TABIRklip