
Penulis: Muhammad Ferian Sadikin
INDUSTRI emas hitam atau batu bara seringkali dianalogikan sebagai dua sisi mata pedang.
Satu sisi, emas hitam merupakan penopang devisa negara, tulang punggung elektrifikasi nasional dan menciptakan ribuan lapangan pekerjaan. Namun di sisi lain, industri emas hitam menyimpan risiko yang sangat nyata.
Selama ini, tambang batu bara dinilai berada di peringkat atas penyumbang angka kecelakaan kerja tertinggi, berdasarkan tingkat keparahan dan fatalitas.
Di balik angka produksi batu bara yang fantastis, realita di lapangan tak bisa dianggap remeh, risiko hilangnya nyawa manusia terus mengintai tak pandang waktu.
Di perusahaan tambang batu bara terbesar di Kalimantan Selatan (Kalsel), PT Adaro Indonesia Tbk, misalnya. Dengan wilayah produksi utama berlokasi di Kabupaten Tabalong dan Balangan, perusahaan emas hitam itu beroperasi dengan total luas konsesi sekitar 26.000 hektar.
Adaro mencatat produksi batu bara sekitar 64 juta ton per tahun dengan kualitas kandungan kalori tinggi dan kadar sulfur serta abu yang rendah.
Namun, dibalik besarnya produksi tahunan Adaro, ada salah satu musuh terbesar yang mengintai. Dalam istilah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) biasanya ada jebakan yang disebut “Production Pressure” atau tekanan produksi.
Ketika Harga Batu Bara Acuan (HBA) melambung tinggi, perusahaan tergoda untuk menggenjot produksi hingga batas maksimal menjadi besar.
Alat berat dipaksa bekerja overtime, siklus maintenance dipersempit dan manajemen fatigue (kelelahan) operator, seringkali dinomor duakan.
2016 silam, angka kecelakaan kerja di Adaro tercatat 59 kasus cedera ringan, 71 kasus cedera berat dan 16 kasus fatality (kematian) di antara pekerja.
Laporan aktivitas semester I-2024 (1H24) Adaro mengungkapkan adanya dua insiden fatality dan empat cedera hilang waktu kerja (Lost Time Injury).
Meskipun Lost Time Injury Frequency Rate (LTIFR) rendah di angka 0,09 -jauh di bawah rata-rata industri nasional- adanya nyawa yang hilang adalah gong peringatan keras.
Angka LTIFR yang kecil dengan fatalitas, menunjukkan karakteristik klasik risiko di sektor pertambangan, frekuensi kecelakaan mungkin jarang, tapi dampaknya mematikan.
Sebagian besar kecelakaan disebabkan oleh human error atau kesalahan dari manusia itu sendiri, umumnya terjadi akibat skill-based error (kesalahan berbasis keterampilan) dan knowladge-based error (kesalahan berbasis pengetahuan).
Transformasi Budaya
NAMA Adaro bukan sekadar raksasa di sektor pertambangan, ia adalah barometer lanskap energi Indonesia. Ketika mereka bergerak, industri mulai mempertimbangkannya.
Kini, di tengah transformasi besar, satu pilar sedang diuji habis-habisan, yakni komitmen terhadap nyawa manusia melalui budaya nihil kecelakaan atau Zero Accident yang digaungkan Adaro.
Skala operasi raksasa dari PT Adaro Indonesia, membuat mereka harus menguji ketangguhan dari budaya Zero Accident itu, agar Adaro bukan sekadar retorika di atas kertas.
Budaya yang Adaro gaungkan dianalogikan sebagai perang melawan kelengahan di setiap waktu. Data terbaru mencatat, perjuangan harus melalui medan terjal dan mendaki, namun bukan suatu kemustahilan.
Adaro menerapkan konsep K3 secara menyeluruh melalui kebijakan perusahaan yang menekankan keselamatan, kesehatan kerja, keselamatan operasi dan perlindungan lingkungan sebagai prioritas utama.
Pendekatan terintegrasi itu dilakukan dalam keseluruhan kegiatan operasional melalui penerapan standar nasional dan internasional, seperti SMKP Minerba dan ISO 45001:2018.
Diperkuat juga dengan budaya kerja “Adaro Zero Accident Mindset – AZam” yang mendorong semua pekerja aktif mengenali, mencegah dan melaporkan potensi bahaya dengan didasari kebiasaan berfikir serta membudayakan selamat dalam bekerja.
Selain itu, Adaro juga membangun sistem pengawasan berjenjang dari level pengawas hingga manajemen, penggunaan teknologi keselamatan serta program training bagi pekerja untuk memastikan kompetensi dan kepatuhan terhadap prosedur.
Melalui pendekatan itu, K3 di Adaro menjadi bagian dari perilaku kerja sehari-hari, bukan sekadar pemenuhan regulasi semata.
Komitmen Pengendalian Risiko
TANTANGAN terbesar Adaro dalam menerapkan Zero Accident bukanlah kurangnya Standar Operasional Prosedur (SOP), melainkan skala dan kecepatan.
Semester I-2024 saja, total jam kerja opeprasional (man-hours) grup melonjak 6 persen menjadi lebih dari 64 juta jam kerja, seiring kenaikan volume produksi sebesar 7 persen, menjadi 35,74 juta ton.
Di sini ujian budaya, ketika output digenjot jeda keselamatan (safety pause) tetap harus dihormati, Zero Accident sejati bukan saat mesin diam, tapi saat target produksi sedang tinggi.
Adaro berkomitmen untuk melakukan pengendalian risiko secara sistematis melalui identifikasi risiko, penguatan prosedur kerja, implementasi, pemantauan dan evaluasi berkelanjutan atas kendali operasional di seluruh area dan aktivitas.
Perusahaan telah menetapkan 18 poin risiko utama yang menjadi fokus pengendalian dan setiap risiko juga dianalisis menggunakan metode bowtie analysis, agar memastikan pencegahan dan mitigasi berjalan efektif.
Evaluasi dilakukan berkala untuk memastikan langkah pengendalian tetap relevan dan sesuai kondisi lapangan.
Adaro juga memanfaatkan teknologi pelaporan Kondisi/Tindakan Tidak Aman (KTA/KTT) melalui Hazard Online. Kamera In Car Cabin (ICC) juga diterapkan di setiap unit operasional serta dashboard pemantauan data statistik keselamatan harian.
Melalui kombinasi analisis risiko, teknologi dan pengawasan langsung, dapat meminimalisir dan mendeteksi risiko sejak dini.
Adaro terus melakukan audit berkala terhadap penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3), Sistem Manajemen Keselamatan Pertambangan (SMKP) dan Integrated Management System (IMS).
Termasuk pembaruan analisis risiko, investigasi insiden secara menyeluruh dan peningkatan standar response serta kesiapsiagaan terhadap kondisi darurat.
Pendekatan menyeluruh itu merupakan komitmen perusahaan untuk menjaga keselamatan seluruh pekerja dan mitra kerja di wilayah operasional PT Adaro Indonesia.
Terbukti, statistik tingkat kecelakaan 2025 secara frequency rate menurun, sedangkan untuk severity rate terjadi kenaikan, Namun untuk itu, Adaro sekuat tenaga melakukan peningkatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan kolaboratif dengan seluruh pekerja.
Penerapan teknologi pun tak luput dari upaya Adaro untuk menciptakan lingkungan kerja aman dan selamat, sehingga dapat mewujudkan nihil kecelakaan. (fer/ra)

Pewarta TABIRkota.com




