Syarikat Islam, Gedung Bersejarah HST yang Masih Tersisa

“Gedung syarikat islam yang berusia sekitar 113 tahun hingga kini masih dipergunakan masyarakat Barabai sebagai surau dan kegiatan ibadah keagamaan”

Gedung syarikat islam di Barabai saat ini (foto: TABIRkota/ferian sadikin)


Oleh : Muhammad Ferian Sadikin

Sore itu tepat pukul 16.30 Wita, Masruswian memacu motor mengelilingi Kota Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan (Kalsel) untuk sekadar menapaki jejak peninggalan sejarah yang masih tersisa.

Kasi Kesenian dan Kebudayaan Dinas Pendidikan (Disdik) HST yang akrab disapa Masrus itu memulai perjalanannya dari rumah menuju Jembatan Shulaha dan berhenti tepat didepan bangunan yang masih kokoh berdiri terhimpit lalu lalang masyarakat Kota Barabai.

Salah satu gedung peninggalan bersejarah tersebut masih berdiri tegak hingga saat ini, terletak di Bantaran sungai Barabai, tepatnya Jalan Brigjend Haji Hasan Baseri. Gedung tersebut bernama  “Syarikat Islam” yang dulu dipimpin oleh Gusti Muhammad Arif itu didirikan pada era Kolonial Belanda tahun 1921, yang sarat dengan nilai-nilai perjuangan islam.

Masruswian menuturkan pengetahuannya tentang bangunan syarikat islam itu, berdasarkan tutur kisah orang tua dulu pada saat peresmian syarikat islam, kala itu langsung dihadiri nasionalis dan salah satu bapak pendiri Republik Indonesia.

“Peresmian tersebut dihadiri Haji Oemar Said Tjokroaminoto seorang Nasionalis yang juga pemimpin Sarekat Dagang Indonesia, kemudian Abikoesno Cokrosuyoso, bapak pendiri Republik Indonesia dan penandatangan konstitusi yang merupakan anggota Panitia Sembilan,” ujarnya.

Salah satu faktor organisasi ini diterima oleh masyarakat Barabai adalah karena penganut agama islam sangat tertarik dengan cita-cita dan perjuangan syarikat islam yang digaungkan dengan semboyannya “Berani karena benar, takut karena salah”.

Ideologi yang dibawa oleh syarikat islam sesuai dengan kondisi masyarakat di Bumi Murakata (sebutan lain untuk Kabupaten HST, red) kala itu. Tidak terlepas dari usaha para pedagang Banjar yang ada di Jawa dengan keyakinan dan tuntutan hati nurani rakyat yang terjajah.

Sejak pertama dibangun gedung syarikat islam tidak banyak mengalami perubahan. Hingga saat ini masyarakat masih mempertahankan keaslian bentuknya, hanya saja mungkin lantai dan bagian yang sudah lapuk  dimakan usia saja yang direnovasi tanpa menghilangkan unsur bangunan aslinya.

“Berdasarkan cerita, perjuangan syarikat islam sangat jelas dan dapat dinikmati oleh semua kalangan, organisasi tersebut memperjuangkan nilai- nilai sosial, ekonomi, pendidikan dan agama kala itu,” Masruswian menjelaskan.

Melihat pesatnya perkembangan dan pengaruh syarikat islam di masyarakat Barabai, menyebabkan pihak pemerintahan Hindia Belanda mulai menaruh kecurigaan terhadap kegiatan-kegiatan organisasi itu.

”Kolonial Belanda saat itu mulai khawatir dengan pergerakan organisasi syarikat islam ini dan meningkatkan pengawasan serta kewaspadaannya, inilah yang menyebabkan organisasi syarikat islam di Bumi Murakata perlahan mulai banyak mengalami kemunduran,” ujarnya.

Berdasarkan nilai sejarah dan usia, tambahnya, bangunan tersebut bisa dikategorikan Objek Diduga Cagar Budaya.

Dinas Pendidikan (Disdik) HST sudah mendata dan akan mencoba mendaftarkan untuk diusulkan menjadi salah satu Cagar Budaya peringkat Kabupaten.

“Sesuai mekanismenya, setelah didaftarkan nantinya Tim Ahli Cagar Budaya akan meneliti dan melakukan verifikasi, apakah bangunan tersebut bisa ditetapkan sebagai salah satu Cagar Budaya yang ada di HST,” tambahnya.

Gedung syarikat islam ini berusia sekitar 113 tahun, sekarang menjadi surau atau mushala dan masih digunakan masyarakat Barabai dalam kegiatan ibadah keagamaan.

Gedung syarikat islam tersebut memang terkenal sejak dulu di kalangan masyarakat Barabai. Namun berdirinya tidak lepas dari tokoh kharismatik dan berwibawa yang memiliki nama Habib Alwi bin Abdullah Al-Habsyi sebagai salah seorang pendiri dan sekretaris syarikat islam kala itu.

Tokoh tersebut merupakan salah satu orang yang dihormati oleh semua kalangan baik dari masyarakat umum maupun pejabat pemerintahan kala itu. Pada era kolonial Belanda dulu beliau diangkat sebagai Kapten Arab atau Kaptein der Arabieren.

Lelaki kelahiran Hadramaut, Yaman pada tahun 1865 itu memilih menetap di Barabai, setelah sebelumnya sempat bermukim di wilayah Banjarmasin beberapa tahun.

Kapten yang nasab keturunannya terhubung dengan Nabi Muhammad Shalallahu’alaihi wasallam tersebut pernah memberi hadiah pintu gerbang ketika ulang tahun Ratu Belanda kala itu.

Pemerhati sejarah HST, Muhammad Mas Adiyanor mengatakan, Habib Alwi juga berperan besar dalam memelopori pembangunan pabrik karet skala besar di Barabai, Beliau juga memiliki kebun karet di wilayah Desa Manggasang, Kecamatan Hantakan.

“Selain itu, Habib Alwi juga berperan besar terhadap pembangunan Rumah Sakit, Toko Batu, Gedung Syarikat Islam dan Sanatorium untuk penderita tuberculosis atau paru-paru di HST,” tambahnya.

Habib Alwi bin Abdullah Al-Habsyi wafat  bertepatan 22 Ramadhan 1383 Hijriyah atau 24 Desember 1967 Masehi, kala itu umur beliau sekitar 102 Tahun dan bermakam di Turbah Alawiyyin Sungai Jingah, Banjarmasin.

Untuk mengenang jasa tokoh berpengaruh tersebut, masyarakat mengabadikan namanya menjadi nama Jalan Lorong Said Alwi terletak di Pusat Kota Barabai disamping bekas kediaman beliau. (fer)

Pewarta: M Ferian Sadikin

Journalist | Editor | - Hulu Sungai Tengah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Next Post

Milad ke-113 Muhammadiyah, LAZISMU Ar Rahim Banjarmasin Gelar Program Peduli Guru

Sel Nov 25 , 2025
"Program Peduli Guru berupa pemberian bantuan dan kajian kesehatan bagi para tenaga pendidik sebagai garda terdepan pembentukan karakter bangsa"

You May Like

TABIRklip